Senin, 07 Juni 2010

Sistem produksi tepat waktu (Just In Time)

Sistem produksi tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada saat dibutuhkan oleh konsumen.

Konsep just in time adalah suatu konsep di mana bahan baku yang digunakan untuk aktifitas produksi didatangkan dari pemasok atau suplier tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi, sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang / penyimpanan barang / stocking cost.

Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya

Jus In Time (JIT) adalah filofosi manufakturing untuk menghilangkan pemborosan waktu dalam total prosesnya mulai dari proses pembelian sampai proses distribusi. Fujio Cho dari Toyota mendefinisikan pemborosan (waste) sebagai: Segala sesuatu yang berlebih, di luar kebutuhan minimum atas peralatan, bahan, komponen, tempat, dan waktu kerja yang mutlak diperlukan untuk proses nilai tambah suatu produk. Kemudian diperoleh rumusan yang lebih sederhana pengertian pemborosan: Kalau sesuatu tidak memberi nilai tambah itulah pemborosan

7 (tujuh) jenis pemborosan disebabkan karena :

Over produksi
Waktu menunggu
Transportasi
Pemrosesan
Tingkat persediaan barang
Gerak
Cacat produksi

B. Konsep Dasar Just In Time

Konsep dasar JIT adalah sistem produksi Toyota, yaitu suatu metode untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan akibat adanya gangguan dan perubahan permintaan, dengan cara membuat semua proses dapat menghasilkan produk yang diperlukan, pada waktu yang diperlukan dan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan
Dalam sistem pengendalian produksi yang biasa, syarat di atas dipenuhi dengan mengeluarkan berbagai jadwal produksi pada semua proses, baik itu pada proses manufaktur suku cadang maupun pada lini rakit akhir. Proses manufaktur suku cadang menghasilkan suku cadang yang sesuai dengan jadwal, dengan menggunakan sistem dorong, artinya proses sebelumnya memasok suku cadang pada proses berikutnya

Terdapat empat konsep pokok yang harus dipenuhi dalam melaksanakan Just In Time (JIT):

Produksi Just In Time (JIT), adalah memproduksi apa yang dibutuhkan hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan.
Autonomasi merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya.
Tenaga kerja fleksibel, maksudnya adalah mengubah-ubah jumlah pekerja sesuai dengan fluktuasi permintaan.
Berpikir kreatif dan menampung saran-saran karyawan

Guna mencapai empat konsep ini maka diterapkan sistem dan metode sebagai berikut :

Sistem kanban untuk mempertahankan produksi Just In Time (JIT).
Metode pelancaran produksi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
Penyingkatan waktu penyiapan untuk mengurangi waktu pesanan produksi.
Tata letak proses dan pekerja fungsi ganda untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
Aktifitas perbaikan lewat kelompok kecil dan sistem saran untuk meningkatkan moril tenaga kerja.
Sistem manajemen fungsional untuk mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan

C. Elemen-elemen Just In Time

Pengurangan waktu set up
Aliran produksi lancar (layout)
Produksi tanpa kerusakan mesin
Produksi tanpa cacat
Peranan operator
Hubungan yang harmonis dengan pemasok
Penjadwalan produksi stabil dan terkendali
Sistem Kanban

1. Pengurangan Waktu set up dan ukuran lot

Pemilahan kegiatan set up
Kegiatan set up bisa dipilah menjadi:
1) Kegiatan eksternal set up: persiapan cetakan & alat bantu, pemindahan cetakan, dan lain-lain.
2) Kegiatan internal set up: bongkar pasang pada mesin, penyetelan mesin, dan lain-lain.

b. Langkah mengurangi waktu set up:

Memisahkan pekerjaan set up yang harus diselesaikan selagi mesin berhenti (internal set up) terhadap pekerjaan yang dapat dikerjakan selagi mesin beroperasi (eksternal set up).
Mengurangi internal set up dengan mengerjakan lebih banyak eksternal set up, contohnya: persiapan cetakan, pemindahan cetakan, peralatan, dan lain-lain.
Mengurangi internal set up dengan mengurangi kegiatan penyesuaian (adjustment), menyederhanakan alat bantu dan kegiatan bongkar pasang, menambah personil pembantu, dan lain-lain.
Mengurangi total waktu untuk seluruh pekerjaan set up, baik internal maupun eksternal.

Contoh:

Jika set up mesin lamanya 1 jam (60 menit), bisa disingkat menjadi 6 menit. Andaikata lot yang harus dibuat banyaknya 3000 buah yang setiap unitnya memakan waktu 1 menit, maka waktu produksinya = 1 jam + (3000 x 1 menit) = 3060 menit = 51 jam.
Setelah waktu set up dikurangi menjadi 6 menit, maka waktu produksinya menjadi = 6 menit + (3000 x 1 menit) = 3006 menit.
Namun, dengan waktu yang sama (3060 menit) dapat dibuat lot sebanyak 300 buah dari berbagai jenis, yang diulang sebanyak 10 kali, yaitu: {6 menit + (300 x 1 menit)} x 10 = 3060 menit = 51 jam.
Hal ini berarti sistem produksi lebih tanggap terhadap perubahan.

2. Aliran produksi lancar (layout)

Pemborosan yang berkaitan dengan process Layout
Pada layout proses ditemukan berbagai pemborosan, yaitu:
Kesulitan koordinasi dan jadwal produksi
Pemborosan transportasi dan material handling
Akumulasi persediaan dalam proses
Penanganan material berganda bahkan beberapa kali
Lead time produksi yang sangat panjang
Kesulitan mengenali penyebab cacat produksi
Arus material dan prosedur kerja sulit dibakukan
Sulitnya perbaikan kerja karena tidak ada standardisasi

c. Aliran Produksi

Proses layout. Waktu simpan komponen lama, tingkat persediaan tinggi, dan prioritas kerja sulit ditentukan.
Ketidakseimbangan jalur. Jika proses tidak terkoordinir maka komponen akan terakumulasi sebagai persediaan, dan pengaturan kerja akan sulit dilakukan.
Set up atau penggantian alat yang makan waktu. Persediaan komponen akan menumpuk, sementara proses berikutnya akan tertunda.
Kerusakan dan gangguan mesin. Jalur akan berhenti dan akan terjadi penumpukan barang dalam proses.
Masalah kualitas. Kalau cacat produksi ditemukan, maka proses selanjutnya akan berhenti dan persediaan akan menumpuk.
Absensi. Jika seorang operator ada yang berhalangan kerja dan penggantinya sulit ditemukan, maka jalur produksi akan terhenti.

3. Produksi tanpa kerusakan mesin

a. Preventive Maintenance
1) Pendekatan untuk mencegah kerusakan dan gangguan mesin dapat dilihat pada gambar 3.
2) Faktor penyebab gangguan mesin dapat dilihat pada gambar 4.
3) Gangguan mesin dan penanggulangannya dapat dilihat pada gambar 5.

b. Total Productive Maintenance

Belajar bagaimana melakukan pemeliharaan rutin mesin, misalnya: pelumasan, pengencangan baut, dan sebagainya. Guna mencegah penurunan daya kerja mesin.
Melaksanakan petunjuk penggunaan mesin secara wajar.
Mengembangkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal penurunan kemampuan mesin, dengan melakukan perawatan yang mudah, pembersihan, penyetelan, dan lain-lain.

Sementara karyawan bagian pemeliharaan, bisa melakukan antara lain

1) Membantu operator produksi mempelajari kegiatan perawatan yang dapat dilakukan sendiri.
2) Memperbaiki penurunan kemampuan peralatan melalui inspeksi berkala, bongkar pasang, dan penyesuaian atau penyetelan kembali.
3) Menentukan kelemahan dalam rancang bangun mesin, merencanakan dan melakukan tindakan perbaikan, menentukan kondisi wajar operasi mesin.
4) Membantu operator menaikan kemampuan perawatan, dan lain-lain.

1. Pengertian Just In Time (JIT)

Sistem produksi tepat waktu (JIT) adalah sistem produksi yang bertujuan untuk menghasilkan unit yang diperlukan dalam jumlah yang diperlukan dalam waktu yang diperlukan.

Ide dasar sistem produksi tepat waktu (JIT) adalah menghasilkan sejumlah barang yang diperlukan saat diminta dengan menghilangkan segala macam pemborosan sehingga diperoleh biaya produksi yang rendah.

Sistem produksi tepat waktu (JIT) bukanlah ilmu yang memerlukan analisis kuantitatif maupun kualitatif yang begitu rumit, lebih tepatnya JIT bisa dikatakan sebagai metode pendekatan, filosofi kerja, konsep ataupun strategi manajemen yang dimaksud dan tujuannya adalah mencapai performansi yang tinggi dalam proses manufacturing. JIT adalah filosofi manufakturing untuk menghilangkan pemborosan dalam total prosesnya mulai dari proses pembelian sampai distribusi.

2. Konsep Dasar Just In Time

Konsep dasar JIT dalam proses produksi atau sistem manufaktur fabrikasi pada prinsipnya pabrik hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta, sejumlah yang diperlukan, pada saat yang dibutuhkan. Sasaran utama dalam JIT adalah membuat kelancaran produksi sehingga tidak mengganggu jalannya aliran bahan dari pemasok sampai pelanggan terakhir dengan tepat.

Terdapat empar konsep dasar dalam melaksanakan JIT, yaitu:

  1. Produksi JIT adalah memproduksi apa yang dbutuhkan, hanya pada saat dibutuhkan dan dalam jumlah yang diperlukan.
  2. Autonomasi, merupakan suatu unit pengendalian cacat secara otomatis yang tidak memungkinkan unit cacat mengalir ke proses berikutnya.
  3. Tenaga kerja yang fleksibel, pekerja dengan fungsi ganda.
  4. Pemikiran kreatif, yang berarti memperhatikan saran para pekerja.

Guna mencapai empat konsep dasar ini maka diterapkan sistem dan metode sebagai berikut:

  • Sistem kanban untuk mempertahankan produksi JIT.
  • Metode pelancaran produksi, untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permintaan.
  • Perpendekan waktu penyiapan, untuk mengurangi waktu pesanan produksi.
  • Tata ruang mesin dan pekerja fungsi ganda untuk konsep tenaga kerja yang fleksibel.
  • Aktivitas perbaikan melalui kelompok kecil dan sistem saran untuk meningkatkan moril tenaga kerja.
  • Sistem pengendalian visual untuk mencapai konsep autonomasi.
  • Sistem manajemen fungsional untuk mempromosikan pengendalian mutu ke seluruh bagian perusahaan.

Just in Time dikembangkan oleh Toyota Motor Corporation tahun 1973. Tujuan utamanya adalah pengurangan biaya atau perbaikan produktivitas dengan menghilangkan berbagai pemborosan. Pengembangan yang sangat penting dalam perencanaan dan pengendalian operasional saat ini adalah JIT manufacturing yang kadang disebut sebagai”produk tanpa persedian”. JIT bukan hanya sekedar sebuah metode yang bertujuan untuk mengurangi persediaan. JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga komponen yang bebas dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi selanjutnya tepat ketika mereka dibutuhkan – tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.

Hal yang harus diperhatikan dalam penerapan JIT

1. Aliran Material yang lancar – Sederhanakan pola aliran material. Untuk itu dibutuhkan pengaturan total pada lini produksi. Ini juga membutuhkan akses langsung dengan dan dari bagian penerimaan dan pengiriman. Tujuannya adalah untuk mendapatkan aliran material yang tidak terputus dari bagian penerimaan dan kemudian antar tiap tingkat produksi yang saling berhubungan secara langsung, samapi pada bagian pengiriman. Apapun yang menghalangi aliran yang merupakan target yang haru diselidiki dan dieliminasi.

· 2. Pengurangan waktu set-up – Sesuai dengan JIT, terdapat beberapa bagian produksi diskret yang memilki waktu set-up mesin yang kadang-kadang membutuhkan waktu beberapa jam. Hal ini tidak dapat ditoleransi dalam sistem JIT. Pengurangan waktu setup yang dramatis telah dapat dicapai oleh berbagai perusahaan, kadang dari 4-7 jam menjadi 3-7 menit. Ini membuat ukuran batch dapat dikurangi menjadi jumlah yang sangta kecil, yang mengijinkan perusahaan menjadi sangat fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.

· 3. Pengurangan lead time vendor – Sebagai pengganti dari pengiriman yang sangat besar dari komponen-komponen yang harus dibeli setiap 2/3 bulan, dengan sistem JIT kita ingin menerima komponen tepat pada saat operasi produksi membutuhkan. Untuk itu perusahaan kadang-kadang harus membuat kontrak jangka panjang dengan vendor untuk mendapatkan kondisi seperti ini.

· 4. Komponen zero defect – Sistem JIT tidak dapat mentolelir komponen yang cacat, baik itu yang diproduksi maupun yang dibeli. Untuk komponen yang diproduksi, teknis kontrol statistik harus digunakan untuk menjamin bahwa semua proses sedang memproses komponen dalam toleransi setiap waktu. Untuk komponen yang dibeli, vendor diminta untuk menjamin bahwa semua produk yang mereka sediakan telah diproduksi dalam sistem produksi yang diawasi secara satistik. Perusahaan kan selalu memiliki program sertifikasi vendor untuk menjamin terlaksananya hal ini.

· 5. Kontrol lantai produksi yang disiplin – Dalam system pengawasan lantai produksi tradisional, penekanan diberikan pada utilitas mesin, waktu produksi yang panjang yang dapat mengurangi biaya set up dan juga pengurangan waktu pekerja. Untuk itu, order produksi dikeluarkan dengan memperhatikan faktorfaktor ini. Dalam JIT, perhitungan performansi tradisional ini sangat jauh dari keinginan untuk membentuk persediaan yang rendah dan menghilangkan halhal yang menghalangi operasi yang responsif. Hal ini membuat waktu awal pelepasan order yang tepat harus dilakukan setiap saat. Ini juga berarti, kadangkadang mesin dan operator mesin dapat saja menganggur. Banyak manajer produksi yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga agar mesin dan tenaga kerja tetap sibuk, mendapat kesulitan membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan agar berhasil menggunakan operasi JIT. Perusahaan yang telah berhasil mengimplementasikan filosofi JIT akan mendapatkan manfaat yang besar.

·

· Prinsip-prinsip JIT

· 1. Simplification, merupakan salah satu tools just in time dalam penyederhanaan proses yang ada.

· 2. Cleanliness and Organization, merupakan aturan dalam organisasi dan perusahaan

· 3. Visibility, membuat agar kesalahan terlihat.

· 4. Cycle time, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu produk.

· 5. Agility, kekuatan dalam pembuatan produk

· 6. Variability Reduction, kemampuan mengurangi hal-hal yang tidak diperlukan.

· 7. Measurement, pengertian akan proses keseluruhan.

BAB II

JUST-IN-TIME ( JIT )

1. Pengertian JIT

Dalam pengertian luas, JIT adalah suatu filosofi tepat waktu yang memusatkan pada aktivitas yang diperlukan oleh segmen-segmen internal lainnya dalam suatu organisasi.

JIT mempunyai empat aspek pokok sebagai berikut:

1. Semua aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap produk atau jasa harus di eliminasi.Aktivitas yang tidak bernilai tambah meningkatkan biaya yang tidak perlu,misalnya persediaan sedapat mungkin nol.

2. Adanya komitmen untuk selalu meningkatkan mutu yang lebih tinggi.Sehingga produk rusak dan cacat sedapat mungkin nol,tidak memerlukan waktu dan biaya untuk pengerjaan kembali produk cacat, dan kepuasan pembeli dapat meningkat.

3. Selalu diupayakan penyempurnaan yang berkesinambungan (Continuous Improvement)dalam meningkatkan efisiensi kegiatan.

4. Menekankan pada penyederhanaan aktivitas dan meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas yang bernilai tambah.

JIT dapat diterapkan dalam berbagai bidang fungsional perusahaan seperti misalnya pembelian, produksi, distribusi, administrasi dan sebagainya.

A. Pembelian JIT

Pembelian JIT adalah sistem penjadwalan pengadaan barang dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan penyerahan segera untuk memenuhi permintaan atau penggunaan.

Pembelian JIT dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian dengan cara:

1. Mengurangi jumlah pemasok sehingga perusahaan dapat mengurangi sumber-sumber yang dicurahkan dalam negosiasi dengan pamasoknya.

2. Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan pemasok.

3. Memiliki pembeli atau pelanggan dengan program pembelian yang mapan.

4. Mengeliminasi atau mengurangi kegiatan dan biaya yang tidak bernilai tambah.

5. Mengurangi waktu dan biaya untuk program-program pemeriksaan mutu.

Penerapan pembelian JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:

1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.

2. Perubahan “cost pools” yang digunakan untuk mengumpulkan biaya.

3. Mengubah dasar yang digunakan untuk mengalokasikan biaya sehingga banyak biaya tidak langsung dapat diubah menjadi biaya langsung.

4. Mengurangi perhitungan dan penyajian informasi mengenai selisih harga beli secara individual

5. Mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi.

B. Produksi JIT

Produksi JIT adalah sistem penjadwalan produksi komponen atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi berikutnya atau sesuai dengan memenuhi permintaan pelanggan.

Produksi JIT dapat mengurangi waktu dan biaya produksi dengan cara:

1. Mengurangi atau meniadakan barang dalam proses dalam setiap workstation (stasiun kerja) atau tahapan pengolahan produk (konsep persediaan nol).

2. Mengurangi atau meniadakan “Lead Time” (waktu tunggu) produksi (konsep waktu tunggu nol).

3. Secara berkesinambungan berusaha sekeras-kerasnya untuk mengurangi biaya setup mesin-mesin pada setiap tahapan pengolahan produk (workstation).

4. Menekankan pada penyederhanaan pengolahan produk sehingga aktivitas produksi yang tidak bernilai tambah dapat dieliminasi.

Perusahaan yang menggunakan produksi JIT dapat meningkatkan efisiensi dalam bidang:

1. Lead time (waktu tunggu) pemanufakturan

2. Persediaan bahan, barang dalam proses, dan produk selesai

3. Waktu perpindahan

4. Tenaga kerja langsung dan tidak langsung

5. Ruangan pabrik

6. Biaya mutu

7. Pembelian bahan

Penerapan produksi JIT dapat mempunyai pengaruh pada sistem akuntansi biaya dan manajemen dalam beberapa cara sebagai berikut:

1. Ketertelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan

2. Mengeliminasi atau mengurangi kelompok biaya (cost pools) untuk aktivitas tidak langsung

3. Mengurangi frekuensi perhitungan dan pelaporan informasi selisih biaya tenaga kerja dan overhead pabrik secara individual

4. Mengurangi keterincian informasi yang dicatat dalam “work tickets”

2. Pemanufakturan JIT dan Penentuan Biaya Produk

Pemanufakturan JIT menggunakan pendekatan yang lebih memusat daripada yang ditemui dalam pemanufakturan tradisional.Penggunaan sistem pemanufakturan JIT mempunyai dampak pada:

1. Meningkatkan Keterlacakan (Ketertelusuran) biaya.

2. Meningkatkan akurasi penghitungan biaya produk.

3. Mengurangi perlunya alokasi pusat biaya jasa (departemen jasa)

4. Mengubah perilaku dan relatif pentingnya biaya tenaga kerja langsung.

5. Mempengaruhi sistem penentuan harga pokok pesanan dan proses.

Dasar-dasar pemanufakturan JIT dan perbedaannya dengan pemanufakturan tradisional:

2.1. JIT Dibandingkan dengan Pemanufakturan Tradisional.

Pemanufakturan JIT adalah sistem tarikan permintaan (Demand-Pull). Tujuan pemanufakturan JIT adalah memproduksi produk hanya jika produk tersebut dibutuhkan dan hanya sebesar jumlah permintaan pembeli (pelanggan). Beberapa perbedaan pemanufakturan JIT dengan Tradisional meliputi:

a. Persediaan Rendah

b. Sel-sel Pemanufakturan dan Tenaga Kerja Interdisipliner

c. Filosofi TQC (Total Quality Control)

2.2. JIT dan Ketertelusuran Biaya Overhead

Dalam lingkungan JIT, beberapa aktivitas overhead yang tadinya digunakan bersama untuk lebih dari satu lini produk sekarang dapat ditelusuri secara langsung ke satu produk tunggal. Manufaktur yang berbentuk sel-sel, tanaga kerja yang terinterdisipliner, dan aktivitas jasa yang terdesentralisasi adalah karakteristik utama JIT.

JIT

TRADISIONAL

Sistem Pull-through

Persediaan tidak signifikan

Sel-sel pemanufakturan

Tenaga kerja terinterdisipliner

Pengendalian mutu (TQC)

Dsentralisasi jasa

Sistem Push-through

Persediaan signifikan

Berstruktur departemen

Tenaga kerja terspesialisasi

Level mutu akseptabel (AQL)

Sentralisasi jasa

2.3. Keakuratan Penentuan Biaya Produk dan JIT

Salah satu konsekuensi dari penurunan biaya tidak langsung dan kenaikan biaya langsung adalah meningkatkan keakuratan penentuan biaya (Harga Pokok Produk).

Pemanufakturan JIT, dengan mengurangi kelompok biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar dari biaya tersebut menjadi biaya langsung maupun sebaliknya, dapat menurunkan kebutuhan penaksiran yang sulit.

2.4. JIT dan Alokasi Biaya Pusat Jasa

Dalam manufaktur tradisional, sentralisasi pusat-pusat jasa memberikan dukungan pada berbagai departemen produksi. Dalam lingkungan JIT, banyak jasa didesentralisasikan.Hal ini dicapai dengan membebankan pekerja dengan keahlian khusus secara langsung ke lini produk dan melatih tenaga kerja langsung yang ada dalam sel-sel untuk melaksanakan aktivitas jasa yang semula dilakukan oleh tenaga kerja tidak langsung.

2.5. Pengaruh JIT pada Biaya Tenaga Kerja Langsung

Sebagai perusahaan yang menerapkan JIT dan otomatisasi, biaya tenaga kerja langsung tradisional dikurangi secara signifikan.Oleh sebab itu ada dua akibat:

1. Persentasi biaya tenaga kerja langsung dibandingkan total biaya produksi menjadi berkurang

2. Biaya tenaga kerja langsung berubah dari biaya variabel menjadi biaya tetap.

2.6. Pengaruh JIT pada Penilaian Persediaan

Salah satu masalah pertama akuntansi yang dapat dihilangkan dengan penggunaan pemanufakturan JIT adalah kebutuhan untuk menentukan biaya produk dalam rangka penilaian persediaan. Jika terdapat persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai, dan penilaiannya mengikuti aturan-aturan tertentu untuk tujuan pelaporan keuangan. Dalam JIT diusahakan persediaan nol (atau paling tidak pada tingkat yang tidak signifikan), sehingga penilaian persediaan menjadi tidak relevan untuk tujuan pelaporan keuangan.Dalam JIT, keberadaan penentuan harga pokok produk hanya untuk memuaskan tujuan manajerial. Manajer memerlukan informasi biaya produk yang akurat untuk membuat berbagai keputusan misalnya: (a) penetapan harga jual berdasar cost-plus, (b) analisis trend biaya, (c) analisis profitabilitas lini produk, (d) perbandingan dengan biaya para pesaing, (e) keputusan membeli atau membuat sendiri, dsb.

2.7. Pengaruh JIT pada Harga Pokok Pesanan

Dalam penerapan JIT untuk penentuan order pesanan, pertama, perusahaan harus memisahkan bisnis yang sifatnya berulang-ulang dari pesanan khusus.Selanjutnya, sel-sel pemanufakturan dapat dibentuk untuk bisnis berulang-ulang.

Dengan mereorganisasi tata letak pemanufakturan, pesanan tidak membutuhkan perhatian yang besar dalam mengelompokkan harga pokok produksi. Hal ini karena biaya dapat dikelompokkan pada level selular. lagi pula, karena ukuran lot sekarang lebih sangat kecil,maka tidak praktis untuk menyusun kartu harga pokok pesanan untuk setiap pesanan. Maka lingkungan pesanan akan menggunakan sifat sistem harga pokok proses.

2.8. Penentuan Harga Pokok Proses dan JIT

Dalam metode proses, perhitungan biaya per unit akan menjadi lebih rumit karena adanya persediaan barang dalam proses. Dengan menggunakan JIT, diusahakan persediaan nol, sehingga penghitungan unit ekuivalen tidak terlalu dibutuhkan, dan tidak perlu menghitung biaya dari periode sebelumnya. JIT secara signifikan mengarah pada penyederhanaan.

2.9. JIT dan Otomasi

Sejak sistem JIT digunakan, biasanya hanya menunjukkan kemungkinan otomasi dalam beberapa hal. Karena tidaklah umum bagi perusahaan yang menggunakan JIT untuk mengikutinya dengan pemilikan teknologi pemenufakturan maju. Otomasi perusahaan untuk : (a) menaikkan kapasitas produksi, (b) menaikkan efisiensi, (c) meningkatkan mutu dan pelayanan, (d) menurukan waktu pengolahan, (e) meningkatkan keluaran.

Otomasi meningkatkan kemampuan untuk menelusuri biaya pada berbagai produk secara individual. sebagai contoh sel-sel FMS, merupakan rekan terotomasi dari sel-sel pemanufakturan JIT. Jadi. beberapa biaya yang merupakan biaya yang tidak langsung dalam lingkungan tradisional sekarang menjadi biaya langsung.

2.10. Penentuan Harga Pokok Backflush

Penentuan harga pokok backflush mengeliminasi rekening barang dalam proses dan membebankan biaya produksi secara langsung pada produk selesai. Perusahaan menggunakan backflush costing jika terdapat kondisi-kondisi sebagai berikut :

1. Manajemen ingin sistem akuntansi yang sederhana.

2. Setiap produk ditentukan biaya standarnya.

3. Metode ini menghasilkan penentuan harga pokok produk yang kira-kira mengasilkan informasi keuangan yang sama dengan penelusuran secara berurutan.

Ada dua perubahan relatif pada sistem konvensional yaitu :

1. Perubahan Akuntansi Bahan

2. Perubahan Akuntansi Biaya Konversi

3. Analisis Biaya-Volume-Laba

3.1 Analisis CPV Konvensional

Analisis biaya-volume-laba (CPV) konvensional menganggap bahwa semua biaya, produksi dan non produksi, dap[at digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu:

a. Biaya yang bervariasi dengan volume, disebut biaya variabel

b. Biaya yang tidak bervariasi dengan volume, disebut biaya tetap.

Dalam anlisis tersebut biaya dianggap sebagai fungsi linier volume penjualan sehingga persamaannya adalah:

L = P - B Dalam hal ini:

P = H X L = Laba bersih sebelum pajak

B = T + VX P = Pendapatan Total

Sehingga: B = Biaya Total

L = HX - T - VX H = Harga jual per unit

X(H - V) = L + T X = Unit atau volume produk yang X = (L+T)/(H-V) T = Biaya tetap total

V = Biaya variabel per unit

3.2 Analisis CPV dalam JIT

Dalam sistem JIT,biaya variabel per unit produk yang dijual turun namun biaya tetapnya naik.Dalam JIT,biaya variabel berdasar batch tidak ada karena batch menjadi satu kali.Jadi,rumus biaya dalam JIT dapat digambarkan sebagai berikut:

B = T + V1X1 + V3X3

B = Biaya Total X1 = Jumlah unit

T = Biaya tetap X3 = Jumlah kegiatan

V1 = Biaya variabel berdasar unit penjualan (berdasar unit)

V3 = Biaya variabel berdasar non unit

4. Titik Impas

Titik impas adalah suatu keadaan dimana perusahaan tidak mendapat laba maupun rugi.jadi dapat dikatakan kondisi pendapatan perusahaan dalam keadaan seimbang.

4.1 Sistem Konvensional


X = (I + F) / (P - V)

Dalam hal ini:

X = Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu

I = Laba sebelum pajak penghasilan

F = Total biaya tetap

P = Harga jual per unit

V = Biaya variabel per unit

4.2 Sistem JIT

X1 = (I + F1 + X2V2 ) / (P - V1)

Dalam hal ini:

X1 = Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu

I = Laba sebelum pajak penghasilan

F1 = Total biaya tetap

X2 = Jumlah kuantitas berbasis nonunit

V2 = Biaya variabel per basis non unit

P = Harga jual per unit

V1 = Biaya variabel per unit

Illustrasi :

PT.KIRANA, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perakitan suku cadang menggunakan dua sistem biaya yang berbeda yaitu:

1. Sistem biaya konvensional

2. JIT

.Sistem biaya konvensional membebankan BOP menggunakan pengarah biaya (cost driver) berbasis unit. Sistem JIT menggunakan pendekatan yang terfokus pada penelusuran biaya dan penentuan harga pokok berbasis aktivitas untuk biaya yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan suatu sel pemanufakturan. Untuk mengetahui perbedaan antara kedua metode, berikut ini disajikan data biaya produksi untuk bulan desember 1997 :

ELEMEN BIAYA

SISTEM BIAYA

KONVENSIONAL

JIT

Bahan Baku

Tenaga kerja langsung

BOP Variabel berbasis unit

BOP Variabel berbasis non unit

BOP tetap langsung

BOP tetap bersama

Rp 800

70

90

-

30

100

Rp 1.090

Rp 800

100

20

30

30

20

Rp 1.000

Diminta:

1. Hitunglah jumlah maksimum dari masing-masing sistem biaya yang harus dibayar seandainya perusahaan memutuskan untuk membeli pada pemasok luar.

2. Bila diketahui perusahaan berproduksi pada kapasitas 1500 unit dengan harga jual Rp 1.100, susunlah laporan L/R untuk periode yang bersangkutan

3. Lakukan analisis terhadap kasus tersebut.

Penyelesaian :

1. Jumlah maksimum yang harus dibayar kepada pemasok luar, biasa dianggap sebagai biaya terhindarkan yang harus diputuskan oleh perusahaan tersebut.

Biaya yang dapat dihindarkan:

- Sistem biaya konvensional = Rp 800 + 70 + 90 + 30 = Rp 990

- Sistem biaya JIT = Rp 800 + 100 +30 +20 +30 = Rp 980

2. Laporan L/R

KETERANGAN

SIST. KONVENSIONAL

SIST. JIT

Penjualan :

( 1500 u x Rp 1.100)

Biaya Variabel :

(Rp 9601) x 1.500 u)

(Rp 8202) x 1.500 u)

Laba Kontribusi

Biaya Tertelusur :

Bi. variabel berbasis non unit

Bi. tetap langsung

Jumlah Biaya Tertelusur

Laba Langsung Produk

Rp 1.650.000

1.440.000

210.000

-

45.000

45.000

165.000

Rp 1650.000

1.230.000

420.000

45.0003)

195.004)

240.000

180.000

1) Rp 800 + Rp 70 + Rp 90 = Rp 960

2) Rp 800 + Rp 20 = Rp 820

3) Rp 30 x 1.500 u = Rp 45.000

4) (Rp 100 + Rp 30) x 1.500 u = Rp 195.000

3. Sistem penentuan harga pokok konvensional menyediakan laporan yang menunjukkan profitabilitas produk sedangkan sistem JIT menunjukkan adanya efisiensi karena JIT dapat mengubah beberapa jenis biaya mis: Biaya tenaga kerja langsung menjadi biaya tetap langsung.

SISTEM JUST-IN-TIME (JIT)

& Activity Based Cost System

Implementasi JIT Manufacturing

Dengan filosofi Just in Time (JIT) perusahaan hanya memproduksi atas dasar permintaan, tanpa memanfaatkan tersedianya persediaan dan tanpa menanggung biaya perse diaan.

Manfaat Just in Time :

Mengurangi waktu penyimpanan (storage time) yang merupakan salah satu akibat dari aktivitas bukan penambah nilai bagi konsumen (non value added activities).

JIT dan Persediaan. Salah satu dampak JIT manufacturing adalah berkurangnya persediaan ke tingkat yang sangat rendah dibandingkan dengan sistem produksi yang tradisional. Biasanya dalam sistem tradisional menghasilkan tingkat persediaan yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan JIT manufacturing.

JIT dan Celluler Manufacturing. Dalam sistem tradisional, produk bergerak dari satu kelompok mesin yang sama ke kelompok mesin yang sama berikutnya. Mesin yang memiliki fungsi yang sama tersebut ditempatkan bersama dalam suatu daerah yang disebut departemen atau proses.

DEPARTEMEN 1 DEPARTEMEN 2 DEPARTEMEN 3

Gambar 1.1

Tata Letak Mesin dalam Sistem Produksi Tradisional

Manufacturing Cell. Dengan sistem ini JIT membentuk manufacturing Cell yakni terdiri dari mesin-mesin yang dikelompokkan ke dalam suatu keluarga mesin, biasanya dalam bentuk setengah lingkaran.

Setiap cell dirancang untuk memproduksi produk tertentu atau satu keluarga produk tertentu.

Gambar 1.2

Tata Letak Mesin dalam Cellular Manufacturing

JIT dan Desentralisasi Jasa Pendukung. JIT memerlukan akses yag cepat dan mudah terhadap jasa pendukung. Oleh karena itu, departemen jasa yang dibentuk untuk melayani secara terpusat semua departemen produksi perlu diperkecil skalanya dan karyawannya dibebani tugas untuk secara langsung mendukung produksi dalam cell tertentu.

Meningkatnya Tuntutan Mutu

Untuk menghasilkan produk yangsesuai dengan spesi fikasi mutu yang dijanjikan kepada pelanggan dibutuhkan pengendalian menyeluruh atau total quality qontrol (TQC). Konsep pengendalian mutu modern menitikberatkan pada orang, bukan proses, dan karyawan didorong agar berusaha menghasilkan ”zero defect”.

Dampak Perkembangan Teknologi Informasi

Terhadap Kebutuhan Manajemen Akan

Informasi Akuntansi

Dengan semakin berkembangnya teknologi infomasi di era globalisasi akan berdampak terhadap teknologi pembuatan produk, sejak saat didesain dan dikembangkan, diproduksi sampai didistribusikan kepada konsumen. Selain itu teknologi informasi juga mempunyai dampak terhadap sistem pengolahan informasi akuntansi untuk memenuhi kebutuhan manajemen yakni :

1. Informasi biaya produk yang lebih cermat

2. Informasi biaya overhead yang lebih cermat

3. Informasi biaya daur hidup produk.

Informasi Biaya Produk yang Cermat.

Untuk menghadapi persaingan global dan tajam, manajemen memerlukan informasi biaya produk yang cermat . Dengan semakin besarnya sumber daya yang dikonsumsi perusahaan dalam fase desain dan fase distribusi produk, manajemen memerlukan informasi biaya yang mencakup semua fase pembuatan produk yakni : fase desain, fase produksi, dan fase distribusi. Sedangkan informasi biaya produk yang sekedar untuk penilai persediaan (inventory valuation) tidak lagi memadai bagi perusahaan-perusahaan yang bersaing secara global.

Informasi Biaya Overhead yang Cermat

Biaya overhead pabrik tidak sekedar dialokasikan kepada produk, akan tetapi lebih dari itu yakni bagaimana caranya agar manajemen mampu untuk mengelola biaya tersebut. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, biaya overhead pabrik mencerminkan konsumsi sumber daya dalam pelaksanaan aktivitas tertentu. Di samping itu BOP juga dalam lingkungan manufacture maju sebagian besar terdiri dari non-unit related cost yang semula sebagian besar berupa biaya yang bervariasi dengan jumlah unit produksi (unit related cost). Perusahaan – perusahaan yang menghasilkan berbagai macam produk (product diversification), yang setiap jenis produk yang dihasilkan mengkonsumsi non-unit related cost dengan proporsi yang berbeda-beda, memerlukan metode pembebanan biaya overhead pabrik yang lebih cermat, yang mencerminkan konsumsi biaya tersebut oleh produk.

Informasi Biaya Daur Hidup Produk

Pesatnya perkembangan teknologi komputer menyebabkan dalam tahap desain, engineering dan produksi, jarak waktu yang diperlukan dari ide rancangan sampai dengan produksi menjadi sangat pendek. Perusahaan dalam kondisi ini lebih memilih strategi inovasi sebagai senjata untuk memenangkan perebutan pasar dunia, sehingga hal ini menjadikan daur hidup produk (product-life cycle) menjadi pendek. Oleh sebab itu manajemen dalam persaingan kelas dunia lebih memerlukan informasi product-life-cycle cost daripada informasi biaya periodik yang dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya tradisional.

Activity Based Cost System

Jika manajemen melayani kebutuhan konsumen dengan filosofi bahwa perusahaan tidak akan membebani konsumennya dengan aktivitas bukan penambah nilai (non value added), maka manajemen akan senantiasa berusaha melakukan penyempurnaan terhadap berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk atau jasa yang diserahkan kepada konsumen. Informasi akuntansi yang dirancang atas dasar aktivitas (activity –based cost system) merupakan sistem akuntansi yang relevan dengan kebutuhan manajemen saat sekarang.

Target Costing

Target Cost adalah perbedaan antara harga jual produk atau jasa yang diperlukan untuk mencapai pangsa pasar (market share) tertentu dengan laba per satuan yang diharapkan. Jika target cost di bawah harga pokok produk yang sekarang dapat dicapai, maka manajemen harus merencanakan program pengurangan biaya untuk menurunkan biaya yang sekarang dikonsumsi untuk menghasilkan produk ke target cost. Kemajuan yang dicapai dari program pengurangan biaya tersebut diukur dengan membandingkan biaya sesungguhnya dengan target cost. Target costing merupakan sistem akuntansi biaya yang menyediakan informasi bagi manajemen untuk memungkinkan manajemen memantau kemajuan yang dicapai dalam pengurangan biaya produk menuju target cost yang telah ditetapkan.

Product Life Cycle Costing

Daur hidup produk (product life cycle) adalah waktu suatu produk mampu memenuhi kebutuhan konsumen sejak lahir sampai diputuskan dihentikan pemasarannya. Biaya daur adalah biaya yang bersangkutan dengan produk selama daur hidupnya, yang meliputi : biaya pengembangan (perencanaan, desaian, pengujian), biaya produksi (aktivitas pengubahan bahan baku menjadi produk jadi), dan biaya dukungan logistik (iklan, distribusi, jaminan dan sebagainya).

Product – life cycle costing adalah sistem akuntansi biaya yang menyediakan informasi biaya produk bagi manajemen untuk memungkinkan manajemen memantau biaya produksi selama daur hidupnya.

ACTIVITY-BASED COST SYSTEM

Yakni merupakan system yang dirancang atas dasar landasan pikiran bahwa produk memerlukan aktivitas dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya.

Pengelolaan aktivitas Biaya merupa-

(activity management) kan sumber daya

merupakan pengelolaan yang dikonsumsi

aktivitas-penambah dan bukan untuk setiap kegia-

penambah nilai dalam meng- tan dalam mengha

konsumsi sumber daya dalam silkan produk

setiap kegiatan untuk mengha-

silkan produk

Gambar 1.3 Hakikat Activity Based Cost System

Full Accounting Information

(Informasi Akuntansi Penuh)

Definisi Informasi Akuntansi Penuh : adalah seluruh aktiva, seluruh pendapatan yang diperoleh dan/selurh sumber yang dikorbankan suatu objek informasi

Dari definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan, sbb ;

1) Unsur yang membentuk informasi akuntansi penuh adalah total aktiva, total pendapatan, dan /total biaya.

§ Full assets : jika informasi akuntansi penuh berupa aktiva

§ Full costs : jika informasi akuntansi penuh berupa biaya

§ Full revenues : jika informasi akuntansi penuh berupa pendapatan.

2) Informasi akuntansi penuh selalu bersangkutan dengan objek informasi.

Informasi akuntansi penuh merupakan informasi akuntansi langsung yang terjadi dalam objek informasi tertentu ditambah dengan bagian yang adil informasi akuntansi tidak langsung yang dibebankan kepada objek informasi.

Perbedaan dengan Full Cost & Full Costing

Full accounting information terdiri dari : full assets, full costs, dan full revenues.

Full cost merupakan unsur full accounting information, yang juga merupakan total biaya yang berhubungan dengan objek informasi.

Jika objek informsi berupa produk, full cost merupakan total biaya yang bersangkutan dengan produk tersebut.

Perhitungan full cost suatu produk dipengaruhi oleh metode penentuan harga pokok produksi, yang digunakan yakni : Full Costing, Variable Costing, Activity Based Costing

§ Full Costing : yakni merupakan salah satu metode penentuan harga pokok produksi yang membebankan seluruh biaya produksi sebagai harga pokok produk baik biaya produksi yang berperilaku variable maupun tetap.

§ Variable Costing : yakni metode penentuan harga pokok produksi yang memasukkan semua unsur biaya produksi yang hanya bersifat variable saja.

§ Activity Based Costing : yakni merupakan penentuan harga pokok produk yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok produk secara cermat dengan mengukur secara cermat konsumsi sumber daya dalam setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

AKUNTANSI MANAJEMEN

MATERI:

  1. AKUNTANSI MANAJEMEN: SUATU PERSPEKTIF
  2. KLASIFIKASI, KONSEP & TERMINOLOGI BIAYA
  3. SISTEM Just-In-Time (JIT) & SISTEM Activity Based Costing (ABC)
  4. PERILAKU BIAYA : ANALISIS DAN PENGGUNAAN
  5. PENENTUAN HARGA POKOK VARIABEL
  6. ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA
  7. PENGANGGARAN

Mid Semester

8. ANALISIS DIFERENSIAL : BIAYA RELEVAN DAN KEPUTUSAN MANAJEMEN

9. PENGANGGARAN MODAL

10. BALANCED SCORECARD

Manajemen rantai suplai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah ‘proses payung’ di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. (Kalakota, 2000, h197)

Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001, h5). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut.

Daftar isi

[tampilkan]

[sunting] Pengertian

Manajemen Rantai Suplai adalah koordinasi dari bahan, informasi dan arus keuangan antara perusahaan yang berpartisipasi. Manajemen rantai suplai bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai.

  • Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen melalui rantai, sama baiknya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur ulang dan pembuangan.
  • Arus informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status pesanan, arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyedia material mentah.
  • Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran dalam penetapan kepemilikandan pengiriman. (Kalakota, 2000, h198)

Menurut Turban, Rainer, Porter (2004, h321), terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu:

  • Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain

Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

  • Manajemen Internal Suplai Rantai/Internal supply chain management

Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

  • Segmen Rantai Suplai Hilir/Downstream supply chain segment

Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.

[sunting] Permasalahan Manajemen Suplai Rantai

Manajemen suplai rantai harus memasukan problem dibawah:

  • Distribusi Konfigurasi Jaringan: Jumlah dan lokasi supplier, fasilitas produksi, pusat distribusi ( distribution centre/D.C.), gudang dan pelanggan.
  • Strategi Distribusi: Sentralisasi atau desentralisasi, pengapalan langsung, Berlabuh silang, strategi menarik atau mendorong, logistik orang ke tiga.
  • Informasi: Sistem terintregasi dan proses melalui rantai suplai untuk membagi informasi berharga, termasuk permintaan sinyal, perkiraan, inventaris dan transportasi dsb.
  • Manajemen Inventaris: Kuantitas dan lokasi dari inventaris termasuk barang mentah, proses kerja, dan barang jadi.
  • Aliran dana: Mengatur syarat pembayaran dan metodologi untuk menukar dana melewati entitas didalam rantai suplai.

Eksekusi rantai suplai ialah mengatur dan koordinasi pergerakan material, informasi dan dana diantara rantai suplai tersebut. Alurnya sendiri dua arah.

[sunting] Aktivitas/Fungsi

Manajemen rantai suplai ialah pendekatan antar-fungsi (cross functional) untuk mengatur pergerakan material mentah kedalam sebuah organisasi dan pergerakan dari barang jadi keluar organisasi menuju konsumen akhir. Sebagaimana korporasi lebih fokus dalam kompetensi inti dan lebih fleksibel, mereka harus mengurangi kepemilikan mereka atas sumber material mentah dan kanal distribusi. Fungsi ini meningkat menjadi kekurangan sumber ke perusahaan lain yang terlibat dalam memuaskan permintaan konsumen, sementara mengurangi kontrol manajemen dari logistik harian. Pengendalian lebih sedikit dan partner rantai suplai menuju ke pembuatan konsep rantai suplai. Tujuan dari manajemen rantai suplai ialah meningkatkan ke[percayaan dan kolaborasi diantara rekanan rantai suplai, dan meningkatkan inventaris dalam kejelasannya dan meningkatkan percepatan inventori.

Secara garis besar, fungsi manajemen ini bisa dibagi tiga, yaitu distribusi, jejaring dan perencaan kapasitas, dan pengembangan rantai suplai.[1]

beberapa model telah diajukan untuk memahami aktivitas yang dibutuhkan untuk mengatur pergerakan material di organisasi dan batasan fungsional. SCOR adalah model manajemen rantai suplai yang dipromosikan oleh Majelis Manajemen Rantai Suplai. Model lain ialah SCM yang diajukan oleh Global Supply Chain Forum (GSCF). Aktivitas suplai rantai bisa dikelompokan ke tingkat strategi, taktis, dan operasional.

[sunting] Strategis

  • Optimalisasi jaringan strategis, termasuk jumlah, lokasi, dan ukuran gudang, pusat distribusi dan fasilitas
  • Rekanan strategis dengan pemasok suplai, distributor, dan pelanggan, membuat jalur komunikasi untuk informasi amat penting dan peningkatan operasional seperti cross docking, pengapalan langsung dan logistik orang ketiga
  • Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa diintregasikan secara optimal ke rantai suplai,manajemen muatan
  • Keputusan dimana membuat dan apa yang dibuat atau beli
  • Menghubungkan strategi organisasional secara keseluruhan dengan strategi pasokan/suplai

[sunting] Taktis

  • Kontrak pengadaan dan keputusan pengeluaran lainnya
  • Pengambilan Keputusan produksi, termasuk pengontrakan, lokasi, dan kualitas dari inventori
  • Pengambilan keputusan inventaris, termasuk jumlah, lokasi, penjadwalan, dan definisi proses perencanaan.
  • Strategi transportasi, termasuk frekuensi, rute, dan pengontrakan
  • Benchmarking atau pencarian jalan terbaik atas semua operasi melawan kompetitor dan implementasi dari cara terbaik diseluruh perusahaan
  • Gaji berdasarkan pencapaian

[sunting] Operasional

  • Produksi harian dan perencanaan distribusi, termasuk semua hal di rantai suplai
  • Perencanaan produksi untuk setiap fasilitas manufaktru di rantai suplai (menit ke menit)
  • Perencanaan permintaan dan prediksi, mengkoordinasikan prediksi permintaan dari semua konsumen dan membagi prediksi dengan semua pemasok
  • Perencanaan pengadaan, termasuk inventaris yang ada sekarang dan prediksi permintaan, dalam kolaborasi dengan semua pemasok
  • Operasi inbound, termasuk transportasi dari pemasok dan inventaris yang diterima
  • Operasi produksi, termasuk konsumsi material dan aliran barang jadi (finished goods)
  • Operasi outbound, termasuk semua aktivitas pemenuhan dan transportasi ke pelanggan
  • Pemastian perintah, penghitungan ke semua hal yang berhubungan dengan rantai suplai, termasuk semua pemasok, fasilitas manufaktur, pusat distribusi, dan pelanggan lain

[sunting] Strukturisasi dan Tiering

Jika dilihat lebih dekat pada apa yang terjadi dalam kenyataannya, istilah rantai suplai mewakili sebuah serial sederhana dari hubungan antara komoditas dasar dan produk akhir. Produk akhir membutuhkan material tambahan kedalam proses manufaktur.

[sunting] Arus Material dan Informasi

Tujuan dalam rantai suplai ialah memastikan material terus mengalir dari sumber ke konsumen akhir. Bagian-bagian (parts) yang bergerak didalam rantai suplai haruslah berjalan secepat mungkin. Dan dengan tujuan mencegah terjadinya penumpukan inventori di satu lokal, arus ini haruslah diatur sedemikian rupa agar bagian-bagian tersebut bergerak dalam koordinasi yang teratur. Istilah yang sering digunakan ialah synchronous. (Knill, 1992)

tujuannya selalu berlanjut, arus synchronous. Berlanjut artinya tidak ada interupsi, tidak ada bola yang jatuh, tidak ada akumulasi yang tidak diperlukan. Dan synchronous berarti semuanya berjalan seperti balet. Bagian-bagian dan komponen-komponen dikirim tepat waktu, dalam sekuensi yang seharusnya, sama persis sampai titik yang mereka butuhkan.

[2]

Terkadang sangat susah untuk melihat sifat arus "akhir ke akhir" dalam rantai suplai yang ada. Efek negatif dari kesulitan ini termasuk penumpukan inventori dan respon tidak keruan pada permintaan konsumen akhir. Jadi, strategi manajemen membutuhkan peninjauan yang holistik pada hubungan suplai.

Teknologi informasi memungkinkan pembagian cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh rantai suplai ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diarahkan pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialha mengintegrasikan data permintaan dan suplai jadi gambaran yang akuarasinya sudah meningkatdapat diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Jadi dengan adanya integrasi ini dalam rantai suplai akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.[3]

I. Evolusi dan Jaringan Terintegrasi didalam SCM
Tantangan yang dihadapi dunia manufaktur berubah dan semakin berat dari masa ke masa. Di era tahun 1960-an orang mengenal Ford sebagai salah satu perusahaan ternama didunia. Mereka terkenal dengan kemampuannya memproduksi mobil yang standar, yaitu ’Model T’ berwarna hitam. Ford mengatakan akan memenuhi semua permintaan ’any color as long as it is black’. Sistem produksi mereka kita kenal dengan istilah mass production atau produksi masal.
Sistem produksi masal sangat mementingkan jumlah output yang dihasilkan per satuan waktu. Produktivitas, efisiensi, dan utilitas sistem produksi adalah tiga kata kunci. Pada sistem seperti ini kecepatan kerja operator diukur dan dijadikan dasar untuk menentukan upah. Menciptakan keseimbangan lintasan produksi juga menjadi kunci tercapainya produktivitas pada sistem produksi massal. Ilmu pengukuran waktu kerja dan metode kerja sangat relevan dengan sistem seperti ini.
Tahun 70-80-an persaingan dunia manufaktur meningkat seiring dengan munculnya perusahaan-perusahaan baru dan mulai diperhitungkannya industri Jepang dalam dunia bisnis global. Keunggulan bersaing pada era ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan sebuah industri untuk menciptakan banyak output per satuan waktu. Produktivitas memang tetap penting, tapi tidak cukup sebagai bekal untuk bersaing di pasar. mulai bisa membedakan produk berdasarkan kualitasnya. Pengendalian kualitas tidak lagi cukup hanya melihat proses. Bahkan orang mulai sadar bahwa kualitas produk juga tidak lepas dari kualitas bahan baku yang dikirim oleh supplier. Muncullah kemudian konsep dan teknik pengendalian kualitas seperti Statiscal Process Control (SPC) dan Total Quality Management (TQM).
Seiring dengan pasar yang semakin meng-global dan munculnya teknologi informasi, persaingan di dunia bisnis semakin ketat. Tuntutan juga semakin tinggi. Mendapatkan produk murah dan berkualitas tidaklah cukup. Variasi produk menjadi penting. Menyadari pentingnya variasi produk untu memenuhi kebutuhan pasar, Alfred P. Sloan membalas semboyan Henry Ford dengan ’a car for every purse and purpose’ yang kemudian didukung oleh General Motor dengan strategi segmentasi pasar berdasarkan nilai (value) dan harga. juga mulai menuntut aspek kecepatan respon, inovasi dan fleksibilitas.
Kegiatan perencanaan produksi, distribusi, transportasi dilihat sebagai aktivitas yang terpisah satu sama lain. Ketika pelanggan menjadi semakin kritis, mereka menuntut penyediaan produk secara tepat tempat, tepat waktu. Perusahaan manufaktur yang antisipatif akan hal tersebut akan mendapatkan sedangkan yang tidak antisipatif akan kehilangan . Supply chain management menjadi satu solusi terbaik untuk memperbaiki tingkat produktivitas antara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Keunggulan kompetitif dari SCM adalah bagaimana ia mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai supply. Dengan kata lain, model SCM mengaplikasikan bagaimana suatu jaringan kegiatan produksi dan distribusi dari suatu perusahaan dapat bekerja bersama-sama untuk memenuhi tuntutan pelanggan.
Tujuan utama dari SCM adalah: pernyerahan/ pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan pelanggan, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan), mengurangi waktu, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi.
Pelaku industri pun mulai sadar bahwa untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas dan cepat, perbaikan di internal sebuah perusahaan manufaktur tidaklah cukup. Ketiga aspek tersebut membutuhkan peran serta semua pihak mulai supplier yang mengolah bahan baku dari alam menjadi komponen, pabrik yang mengubah komponen dan bahan baku mnjadi produk jadi, perusahaan transportasi yang mengirimkan bahan baku dari supplier ke pabrik, serta jaringan distribusi yang akan menyampaikan produk ke tangan . Kesadaran akan pentingnya peran semua pihak dalam menciptakan produk yang murah, berkualitas dan cepat inilah yang kemudian menciptakan produk yang murah dan berkualitas serta cepat inilah yang kemudian melahirkan konsep baru tahun 1990-an yaitu supply chain management (SCM).




Gambar 1. Jaringan Supply Chain Management


Sejak SCM terlibat dalam aktifitas antar perusahaan, prosenya meliputi berbagai fungsi seperti supply raw material, manajen produksi, transportasi, manajemen inventori, sistem informasi (SIM), proses order, penanganan material dan manajemen . Istilah logistik yang lebih sederhana diidentifikasikan sebagai kombinasi diantara fungsi – fungsi tersebut. Lebih jauh lagi, prosedur yang berhubungan dengan ijin bea cukai ditambahkan adalam kasus internasional SCM.
Salah satu fitur utama pada SCM adalah memproses integrasi vertikal dari suppllier ke pelanggan yang dapat dilakukan melalui aliansi strategi antar perusahaan. Di salah satu sisi terdapat kasus dimana seluruh proses vertikal dibawa oleh suatu perusahaan, selama optimasi total lebih besar daripada jumlah optimasi parsial. Secara umum, optimasi total dalam supply chain adalah lebih besar daripada optimasi parsial dalam rantai individu. Bagaimanapun juga, jika suatu perusahaan dapat mengaplikasikan seluruh proses supply chain didalamnya menjadi suatu organisasi dengan skala yang lebih besar, dapat menghasilkan biaya administrasi yang tinggi. Di sisi lainya, terdapat kasus dimana setiap perusahaan adalah independen dari perusahaan lainnya dan bertransaksi secara individu dalam proses vertikal tanpa strategi. Aliansi antar perusahaan, yang membuat keuntungan optimasi lebih rendah dan biaya administrasi lebih rendah. Posisi dari SCM berada pada kedua sisi tersebut. Masing – masing perusahaan independen secara strategi berhubungan dengan perusahaan lainnya dalam proses integrasi vertikal.

I. 1 SCM dan Pengembangan IT
Dalam mengatur aliran barang dalam supply chain, setiap perusahaan harus selalu mempertimbangkan persoalan bagaimana memproses informasi. Proses informasi adalah salah satu fungsi utama pada SCM dalam dekade saat ini. Inovasi dalam teknologi informasi telah memberikan kesempatan untuk menaikkan kapabilitas proses informasi. Oleh karena itu untuk meningkatkan informasi performa SCM, teknologi informasi memberikan dua kontribusi dalam SCM :
1. Perbaikan dan berbagai informasi diantara perusahaan,
2. Indentifikasi permasalahan yang tepat dan optimasi.
Pertama, telah dibicarakan elektronik data adalah suatu cara yang efektif untuk mempromosikan pembagian informasi dengan tepat diantara perusahaan sehingga bertepatan dengan tujuan SCM. Elektronic Data Interchange (EDI) didefinisikan sebagai suatu hubungan online komputer dan pertukaran informasi pada setiap transaksi diantara perusahaan – perusahaan yag sudah terintegrasi didalam suatu jaringan. Bagaimanapun juga, diperlukan elektronik data khusus untuk dimasukkan kedalam suatu value added network atau saluran yang dibuka dengan tujuan untuk membagi suatu jaringan. Jumlah model yang sangat besar untuk berinvestasi dalam suatu value added network atau saluran yang dibuka telah menjadi alasan utam mengapa manajemen elektronic data interchange, electronic data interchange logistic telah menjadi sangat lambat.
Bagaimanapun juga suatu permasalahan investmen kemungkinan besar juga dapat diselesaikan dengan menyebarkan teknologi internet. Pembagian informasi diantara perusahaan dapat diandalkan dengan web elektronik data interchange. Daripada membuka saluran elektronic data interchange. Meskipun kenyataannya internet menimbulkan beberapa masalah pada keamanan dan standarisasi, web elektronic data interchange sangat berguna dikarenakan memiliki biaya yang rendah pada investmen dibandingkan dengan memberikan jaringan terbuka. Dari manfaat ini web elektronik data interchange telah memberikan kemungkinan dalam mempromosikan pembagian informasi diantara perusahaan lebih jauh lagi, penggunaan internet dikombinasikan dengan ITS menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki sistem logistik.
Pembagian informasi tidak hanya diperkenalkan oleh perusahaan swasta tetapi oleh pemerintah juga sebagi contoh dalam logistik internasional, sejak wewenang pemerintah tidak terhubung secara effisien dengan yang lainnya atau dengan perusahaan swasta ketika melakukan prosedur bea cukai, ini menjadi sumber hambatan dalam logistik.
Disamping kemudahan penggunaan dari EDI atau Web – EDI, ERP juga telah mendapatkan perhatian yang luas. ERP adalah suatu metode yang mengatur informasi dengan tujuan berbagi informasi perusahaan pada saat ini. Pengenalan ERP dalam setiap perusahaan adalah komplementasi satu dengan yang lainnya oleh EDI agar berbagai informasi dapat diolah diantara perusahaan dalam suatu jaringan SCM.
Kedua, karena berbagai informasi memberikan bayak data yang tersedia, kita harus merumuskan masalah berdarkan data, dan menemukan cara untuk penyelesaiannya. Perkembangan aplikasi software sebenarnya untuk menyelesaikan berbagai masalah telah mendapatkan keuntungan lebih besar dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Software untuk merealisasikan SCM secara bersamaan disebut Supply Chain Planning Software (SCPS). SCPS terdiri dari beberapa software pada manufacturing planning, demand forecasting, transportation planning, inventory management schedulling dan lain – lain. Pada umumnya, kemampuan teknologi informasi telah mengembangkan secara cepat pembagian atau berbagai informasi diantara perusahaan yang diperlukan untuk SCM, dan telah menyebabkan perbaikan dalam kualitas dari aplikasi software untuk memproses informasi atau software supply chain planning.

II. Tahapan – Tahapan Perkembangan Teknologi Informasi SCM Manufactur
Dalam lingkungan manufaktur, perbaikan terhadap produktivitas mengalami pembenahan terus-menerus dan hal itu telah menjadi isu besar bagi setiap orang. Sejak komputer ditemukan dan digunakan secara luas dalam industri perdagangan, IT telah menyodorkan berbagai macam solusi dalam rangka perbaikan tingkat produktivitas. Sekitar 30 tahun lalu MRP (Material Requirement Planning/ Perencanaan Permintaan Barang) hadir di dunia. Inilah awal mulanya komputer menambah sistem perencanaan guna mendukung bidang manufaktur. MRP telah berkembang begitu pesat di seluruh dunia dan pada setiap industri manufaktur sebagaimana komputer berkembang menjadi populer. Penagihan atas barang - yang sebelumnya dilakukan dengan menggunakan kertas, kini semuanya dilakukan secara digital dan ditayangkan dalam komputer - sehingga bisa diperhitungkan berapa jumlah barang untuk memenuhi perencanaan produksi atas produk akhir.
Setelah penggunaan MRP menjadi populer metode itu sendiri mengalami pembenahan secara bertahap
1. Close – Loop MRP, beberapa karakteristik yang dimiliki oleh Close-Loop MRP adalah :
• Merupakan sederetan fungsi, tidak hanya material requirement planning
• Terdiri atas alat bantu untuk menyelesaikan masalah prioritas dan perencanaan kapasitas dan dapat mendukung perencanaan dan eksekusi.
• Menyediakan fasilitas umpan balik dari fungsi eksekusi ke fungsi perencanaan.
• Rencana dapat dirubah / diganti jika diperlukan dengan menjaga agar prioritas tetap valid juka terjadi perubahan kondisi
2. MRP II. Merupakan penyempurnaan dari Close-Loop MRP. Karakteristik MRP II ini sama dengan Closed-Loop MRP, namun ditambah elemen lain, yaitu :
• Perencanaan Penjualan dan Operasi : proses yang digunakan untuk menyeimbangkan antara permintaan dan persediaan, sehingga manajemen puncak dapat melakukan control atas aspek operasional bisnis.
• Antar muka keuangan, kemampuan menerjemahkan rencana operasional (dalam bentuk piece, kg, gallon dan satuan lainnya) menjadi satuan biaya (dalam mata uang tertentu, misalnya dolar).
• Simulasi, kemampuan melakukan analisis “ what if “ untuk mendapatkan jawaban yang mungkin diterapkan, baok dalam satuan unit maupun jumlah uang.
3. ERP (Enterprise Resource Planning)
Adalah kemasan bisnis software yang mengatur seluruh dasar bisnis dalam perusahaan manufactur dalam suatu lingkungan yang sama. Area bisnis yang dilingkup oleh ERP adalah: akuntansi keuangan, akuntansi pengendalian, penjualan, manajemen material, pembelian, perencanaan produksi, manajemen sumberdaya manusia, dan sebagainya. Dan semua aplikasi bisnis dapat dinyatakan dalam sebuah komputer kecil (Unix machine, atau Windows NT Machine) sama dengan komputer mainframe IBM pada tahun 1980-an. Dan dapat dengan mudah membiasakan dirinya dengan sistem ini dalam praktek bisnisnya. Data antara setiap bagian dalam perusahaan dapat menjadi transparan. Hal ini membuat supply chain dalam suatu perusahaan dapat menjadi lebih sederhana dan efisien.
4. Extended ERP II
ERP berikutnya mulai diluncurkan sekitar tahun 2000. ERP ini sering disebut dengan extended ERP. Perluasan ERP ini dibandingkan dengan ERP generasi pertama adalah mencakup fungsi yang dapat menjembatani komunikasi dengan supplier dan nya. Sistem ERP sebelumnya lebih berfokus pada , proses produksi, transaksi real time dan manajemen asset perusahaan. Pengembangan sistem ERP menjadi extended ERP selain berfokus pada juga pada usaha optimasi seluruh jaringan bisnis, termasuk integrasi dengan supplier.




Gambar 2. Perkembangan Teknologi Informasi SCM


Semua pengembangan informasi tersebut dilakukan dalam rangka memperbaiki computing power dari hard ware dan IT Technology. Walaupun banyak perkembangan teknologi di manufacture khusunya dalam bidang SCM, namun semuanya terintegrasi didalam suatu system yang terpusat. CIM (Computer Integrated Manufacturing) adalah gagasan yang menggabungkan sistem produksi dengan sistem penjualan. Sebelumnya, bagian penjualan dan bagian operasi berjalan secara terpisah dengan sekumpulan data transfer mingguan dan bulanan. Dengan memadukan sistem penjualan dan operasi melalui pertukaran data harian atau dalam komputer yang tersentralisasi, berbagai perubahan yang terjadi dalam jumlah penjualan dapat terrefleksi dalam perencanaan produksi. Hal ini sangat esensial dalam mengatasi fluktuasi pasar.
Hal yang menarik dari proses evolusi tersebut adalah, bahwa makin hari makin banyak fungsi yang terlibat dan meliputi berbagai dimensi (area fungsional, kombinasi antara proses transaksi dan dukungan atas pengambilan keputusan, dan penyertaan mitra bisnis pada sistem). Konsep yang mendasari semua ini adalah integrasi, artinya konsep tersebut akan berhasil diterapkan jika didukung oleh sebuah sistem software yang terintegrasi. Berikut manfaat penting dari sistem terintegrasi sebagai berikut :
• Manfaat terhitung (tangible) : pengurangan inventory dan sumber daya manusia, peningkatan produktivitas, pengelolaan order, dan siklus pengelolaan keuangan, pengurangan biaya teknologi informasi dan biaya pengadaan, peningkatan manajemen keuangan, pendapatan (keuntungan), pengurangan biaya transpportasi dan logistik, penguranagan biaya pemeliharaan, dan peningkatan kualitas pengiriman produk yang tepat waktu.
• Manfaat tidak terhitung (intangible) : visibilitas dan trasnparasi informasi, peningkatan proses atau terciptanya proses baru, pandangan posistif pelanggan atas perusahaan, fleksibilitas, globalisasi, dan peningkatan kinerja bisnis.

Ada banyak paket software dari SCM yang sesuai dengan kondisi pasar. Perusahaan yang telah menerapkan SCM sangat sukses dalam memperbaiki tingkat produktivitasnya dan tentunya meningkatkan keuntungan secara dramatis. Penggunaan internet yang makin populer mendorong setiap perusahaan dapat bekerjasama untuk membangun suatu supply chain sehingga terbentuklah apa yang disebut dengan virtual company. Melalui teknologi ini, suatu perusahaan yang begitu unggul dalam bidang pemasaran dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan kecil lainnya yang mungkin memiliki keunggulan dalam bidang manufacturing, penjualan, distribusi, dan sebagainya.

III. Komponen Supply Chain Management dan Teknologi
Sistem SCM memiliki kemampuan sebagai berikut:
- Aliran informasi bergerak sangat cepat dan akurat antara elemen jaringan supply chain seperti: Pabrik, Suppliers, Pusat distribusi, pelanggan, dan sebagainya.
- Informasi bergerak sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk.
- Setiap elemen dapat mengatur dirinya
- Terjadi integrasi dalam proses permintaan dan penyelesaian produk
- Kemampuan internet.
Peralatan fungsional yang dimiliki sistem SCM adalah:
1. Demand management/forecasting
Perangkat peralatan dengan menggunakan teknik-teknik peramalan secara statistik. Perangkat ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil peramalan yang lebih akurat.

2. Advanced planning and scheduling
Suatu peralatan dalam rangka menciptakan taktik perencanaan, jangka menengah dan panjang berikut keputusan-keputusan menyangkut sumber yang harus diambil dalam rangka melengkapi jaringan supply .
3. Transportation management
Suatu fungsi yang berkaitan dengan proses pendisitribusian produk dalam supply chain .
4. Distribution and deployment
Suatu alat perencanaan yang menyeimbangkan dan mengoptimalkan jaringan distribusi pada waktu yang diperlukan.
5. Production planning
Perencanaan produksi dan jadwal penjualan menggunakan taraf yang dinamis dan teknik yang optimal.
6. Available to-promise
Tanggapan yang cepat dengan mempertimbangkan alokasi, produksi dan kapasitas transportasi serta biaya dalam keseluruhan rantai supply .
7. Supply chain modeler
Perangkat dalam bentuk model yang dapat digunakan secara mudah guna mengarahkan serta mengontrol rantai supply. Melalui model ini, mekanisme kerja dari konsep supply chain dapat diamati.
8. Optimizer
The optimizer ibarat jantung dari sistem supply chain management. Dalamnya terkandung: linear & integer programming, non-linear programming, heuristics and genetic algorithm. Genetic algorithm adalah suatu computing technology yang mampu mencari serta menghasilkan solusi terbaik atas jutaan kemungkinan kombinasi atas setiap parameter yang digunakan.

III. 1 Aplikasi Penggunaan Teknologi Informasi SCM Pada Perusahaan.
Penggunaan Teknologi Informasi dapat dilihat pada PT. Yanmar Diesel Indonesia yang telah menerapkan sistem teknologi informasi MRP II untuk menyelengganrakan kegiatan proses produksinya. PT. Yanmar Diesel Indonesia (YADIN) ini merupakan pabrik manufaktur perakitan mesin diesel untuk aplikasi pertanian, industri dan kelautan yang mempunyai kapasitas produksi 40.000 unit engine yang dihasilkan.
Secara umum proses pendistribusian komponen-komponen terutama komponen lokal mesin diesel adalah komponen yang meliputi raw material, sub material dan finish good material akan dikirim oleh supplier ke YADIN berdasarkan schedule yang telah ditetapkan oleh YADIN. Komponen-komponen tersebut sebelum diproses assy maupun machining akan terlebih dahulu dicek secara random oleh divisi quality control bagian incoming inspection. Apabila komponen yang dicek oleh quality control presentasinya > 10% dari total komponen yang dikirim oleh supplier, maka komponen tersebut dapat disimpulkan reject semua. Komponen yang telah lolos cek visual maupun dimensi oleh quality control berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh YADIN, maka akan diambil oleh divisi warehouse untuk disimpan secara baik dan aman untuk diteruskan ke divisi produksi yang meliputi assembling, painting dan machining berdasarkan planning produksi yang telah ditetapkan oleh PCD (Production Control Division).
Komponen-komponen yang telah diassy menjadi engine akan ditest running terlebih dahulu sebelum dipacking. Setelah dinyatakan ‘OK’ oleh bagian test running, engine tersebut dipacking dan dikirim ke Yanmar Agriculture Indonesia (YAMINDO) di Sidoarjo untuk dirangkai dengan aplikasi penunjang sesuai dengan permintaan pasar, seperti hand body tractor, mesin kapal, mesin pengupas gabah dan lain sebagainya. Setelah dirangkai dengan aplikasi penunjang maka engine tersebut akan dikirim ke main dealer YANMAR diseluruh Indonesia untuk dijual ke para .



Gambar 3. Production Flow PT. Yanmar Diesel Indonesia


Untuk memudahkan proses pelaksanaan produksi, PT Yanmar Diesel Indonesia menggunakan suatu sistem komputerisasi yang terintegerasi, yang bisa diakses oleh tiap-tiap departemen. Sistem yang digunakan oleh YADIN adalah AS/400, oleh YADIN, sistem ini dinamakan YGLS (Yanmar Global Logistic System).



Gambar 4. Yanmar Global Logistic System



Sistem ini mempunyai beberapa komponen menu-menu utama, yaitu :
1. Menu order penjualan
2. Menu pembelian dan penerimaan
3. Menu pengiriman produk
4. Menu pengiriman komponen (spare parts)
5. Menu perencanaan produksi
6. Menu pembelian material (order pembelian)
7. Menu manufaktur (terdiri dari assembling, machining, painting, dan packing)
8. Menu distribusi material ke unit-unit produksi
9. Menu pengaturan penyimpanan material di gudang
10. Menu manajemen harga (financial dan accounting)
11. Menu perhitungan kembali stok material (tiap 6 bulan sekali)
12. Menu master seluruh produk (meliputi input harga, delivery lead time, stock taking, lot delivery, komponen-komponen dari suatu engine)
13. Menu produksi bulanan
Menu-menu diatas sangat berguna sebagai acuan, terutama pada tiap-tiap departmen untuk mengawasi peredaran material-material untuk diproses lebih lanjut (machining, painting, assembling dan packing).

III. 2. Mencapai Supply Chain Terintegrasi
Ada beberapa tahapan untuk mencapai suatu system SCM yang terintegrasi :
1. Tahap 1 : Baseline (dasar) posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap dimana masing – masing fungsi bisnis seperti produksi dan pembelian melakukan aktifitas mereka secara sendiri – sendiri dan terpisah dari fumgsi bisnis yang lain.
2. Tahap 2 : Integrasi fungsional perusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya ada penggabungan antara fungsi – fungsi yang melakukan aktifitas hamper sama, misalnya antara bagian distribusi dan manajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material
3. Tahap 3 : Integrasi secara internal diperlukan pengadaan dan pelaksanaan kerangka kerja end - to – end.
4. Tahap 4 : Integrasi secara eksternal merupakan integrasi supply chain yang sebenarnya karena mempunyai konsep menghubungkan dan mengkoordinasikan suatu hasil yang telah dicapai pada tahap 3 dan diperluas dengan cara menjalin suatu hubunga dengan supplier dan .
Meskipun adanya kebutuhan atas sistem terintegrasi sudah lama disadari oleh industri manufaktur, tetapi pada awalnya konsep dan sistem pendukung yang dibangun tidaklah terintegrasi penuh, tetapi hanya mengintegrasikan beberapa segmen manufaktur tersebut.
Beberapa konsep dan system yang pernah dibangun dan diterapkan untuk mendukung masing – masing proses dan fungsi dalam system manufaktur misalnya PDM, MRP II, JIT, KANBAN, CRM dan SCM. Beberapa system kemudian dilebur dalam satu konsep terintegrasi yaitu ERP, beberapa lagi dioperasikan dengan pemilihan beberapa modul, sehingga terkesan saling tumpamg tindih (overlap).
Secara garis besar, dukungan sistem – sistem terintegrasi ini dapat dipetakan pada masing – masing proses pada model pertambahan nilai. Jika pemetaan ini dikaitkan dengan pelaku yang terlibat dalam proses serta dukungan masing – masing system baik yang terintegrasi maupun yang specific, maka hasilnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.



Gambar 5. Sistem Terintegrasi Didalam Industri


IV. Trend Teknologi Informasi SCM di Masa Depan
Teknologi internet dan web merupakan topik terhangat dalam SCM akhir- akhir ini. Banyak orang percaya bahwa internet merupakan alat yang sangat bermanfaat bagi komunikasi. E-mail adalah media yang bagus bagi orangorang untuk berkomunikasi satu dengan yang lain. Contoh dari bisnis yang menggunakan internet adalah E-Commerce. Di sini komunikasi terjadi antara perusahaan dengan konsumer, atau disebut Business to Consumer (B2C). Contoh B2C ini adalah Amazon.com dan Dell.
Ke depan, e-commerce tak lagi sekedar B2C tapi Business to Business (B2B). Ada beberapa area dimana internet mempunyai peranan sangat besar dalam B2B.


1. Maintenance Repair and Operation (MRO).
Dalam MRO, persyaratan pembelian biasanya berasal dari interaksi manual para operator pembelian. Sebelum ada B2B perocurement, orang-orang memerlukan barang di kantor atau di pabrik mengisi formulir pembelian di secarik kertas yang harus ditandatangani oleh beberapa manajer sebelum akhir barang diorder. Setelah ada B2B procurement, orang- orang yang memerlukan barang memasuki internet, dan menseleksi barang-barang yang dibutuhkan melalui katalog, kemudian meminta persetujuan manajer, setelah itu memesan pada supplier tanpa gangguan “tangan” departemen pembelian. Ini mengurangu labour cost di departemen pembelian.
2. Direct Material Purchashing (DMP).
Banyak perusahaan sekarang mencoba untuk mendapatkan solusi mengurangi biaya pembelian bahan baku langsung untuk produksi di pabrik. Pada perusahaan manufakturing, biasanya persyaratan material dihitung berdasarkan rencana produksi dan bill of material (BOM). Kemudian hasilnya dikirim melalui EDI (Electric Data Interchange) kepada vendor individual. Tetapi data yang bisa ditransfer EDI adalah sangat terbatas. Salah satu contoh penggunaan internet dan XML (Extensible Markup Language) teknologi adalah Rosettanet, yaitu sebuah konsorsium yang dipelopori oleh perusahaan-perusahaan IT dan Elektrik AS, seperti IBM, HP, Dll, Intel dan Microsoft.
3. E-Marketplace.
Adalah sebuah portal internet dimana perusahaan dapat melakukan pertukaran bahan baku. Contoh; ketika perusahaan manufaktur PC ingin membeli beberapa CPU chips pada harga yan rendah, mereka mengumumkan persyaratan bahan baku dan kuantitasnya di market place. Ada banyak e-marketplace yang lahir sejak tahun lalu. Mereka kebanyakan terdiri dari banyak industri yang spesifik. Contohnya adalah e-hitex untuk industri teknologi tinggi dan Covisint untuk industri mobil.



V. Kesimpulan
1. Seiring dengan pasar yang semakin meng-global dan munculnya teknologi informasi, persaingan di dunia bisnis semakin ketat. Tuntutan pelangganpun semakin tinggi sehingga menuntut perusahaan untuk meningkatkan kualitas dengan biaya yang efisien dan efektif. Tuntutan pelanggan semakin bervariasi, mulai dari jenis produk sampai pada jenis pelayanan yang berkaitan dengan sistem atau teknologi yang digunakan perusahaan. Supply Chain Management merupakan sistem yang dapat memenuhi tuntutan tersebut.
2. Tujuan utama dari Supply Chain Management adalah: pernyerahan/ pengiriman produk secara tepat tempat dan tepat waktu demi memuaskan pelanggan, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan), mengurangi waktu, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi.
3. PT. Yanmar Diesel Indonesia telah menerapkan sistem Supply Chain Management dan menggunakan sistem komputerisasi yang terintegrasi yaitu sistem AS/400 yang dinamakan YGLS (Yanmar Global Logistic System) dengan fungsi mengakses berbagai informasi berkaitan dengan beberapa komponen menu-menu utama, yaitu :
- Menu order penjualan
- Menu pembelian dan penerimaan
- Menu pengiriman produk
- Menu pengiriman komponen (spare parts)
- Menu perencanaan produksi
- Menu pembelian material (order pembelian)
- Menu manufaktur (terdiri dari assembling, machining, painting, dan packing)
- Menu distribusi material ke unit-unit produksi
- Menu pengaturan penyimpanan material di gudang
- Menu manajemen harga (financial dan accounting)
- Menu perhitungan kembali stok material (tiap 6 bulan sekali)
- Menu master seluruh produk (meliputi input harga, delivery lead time, stock taking, lot delivery, komponen-komponen dari suatu engine)
4. Aplikasi Teknologi Informasi terintegrasi dengan memanfaatkan internet dalam Supply Chain Management yang telah diterapkan PT. Yanmar Diesel Indonesia sangat bermanfaat dalam mengelola informasi dari seluruh komponen pendukung Supply Chain sehingga mampu memenuhi tuntutan dari pelanggan. Dan hal ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi perusahaan lain untuk menerapkan Aplikasi Teknologi Informasi terintegrasi dalam Supply Chain Management.
5. Dengan mengimplementasikan aplikasi Teknologi Informasi Terintegrasi dalam Supply Chain Management bukan hanya mampu memenuhi tuntutan pelanggan tetapi juga mampu memperbaiki/meningkatkan produktivitas perusahaan yang tentunya sampai pada perbaikan/peningkatan margin perusahaan.

Istilah supply chain dan supply chain management sudah menjadi jargon yang umum kita jumpai di berbagai media baik majalah manajemen, buletin, koran, buku ataupun dalam diskusi-diskusi. Namun tidak jarang kedua term diatas di persepsikan secara salah. Banyak yang mengkonotasikan supply chain sebagai suatu software. Bahkan ada yang mempersepsikan bahwa supply chain hanya dimiliki oleh perusahaan manufaktur saja, sehingga pernah suatu saat saya menerima statement dari petinggi perusahaan bahwa perusahaannya tidak memiliki supply chain karena tidak memiliki fasilitas produksi sama sekali.

Sebagai disiplin, supply chain management memang merupakan suatu disiplin ilmu yang relative baru. Cooper (1997) bahkan menyebut istilah “supply chain management” baru muncul di awal tahun 90-an dan istilah ini diperkenalkan oleh para konsultan manajemen. Saat ini supply chain management merupakan suatu topic yang hangat, menarik untuk didiskusikan bahkan mengundang daya tarik yang luar biasa baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.

Supply Chain

Supply chain dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir. Dengan definisi ini tidak jarang supply chain juga banyak diasosiasikan dengan suatu jaringan value adding activities.

Bisa kita bayangkan bagaimanakah jaringan supply chain dari suatu produk tertentu. Kita ambil saja satu contoh barang yang sudah sangat kita kenal, mobil misalnya. Berbagai macam aktivitas dan perusahaan terlibat dalam pembuatan suatu mobil sampai ia ada ditangan konsumen akhir. Kalau kita lihat dari titik perusahaan perakitan sampai aliran barang ke konsumen, mungkin akan terlihat “sederhana”. Dari perakitan akhir, mobil-mobil akan di distribusikan melalui dealership sampai mobil-mobil ini ada di showroom-showroom untuk akhirnya sampai ke pemakai. Pada rantai jaringan inipun juga terlibat jaringan after sales services yang siap melayani konsumen mulai dari perawatan dilengkapi dengan supply komponen pengganti.

Kalau kita tarik dari perakitan sampai ke bahan baku, maka jaringan supply chain ini akan semakin kompleks. Berbagai komponen, modul dan sub komponen yang terlibat untuk dapat dirakitnya suatu mobil. Di titik paling hulu adalah industri yang menghasilkan plastik, baja/besi, aluminium, dan karet untuk ban, gasket dan komponen dari karet lainnya, serta kulit yang digunakan untuk jok mobil. Bisa kita bayangkan, ada ribuan aktivitas yang terlibat.

Nah, dari gambaran dan definisi diatas maka kita bisa lihat bahwa supply chain sebagai suatu aktivitas ataupun proses bisnis akan selalu ada. Dan bahkan keberadaannya telah ada sejak suatu aktivitas transformasi barang dan pendisitribusiannya ke konsumen akhir dimulai. Jadi, apakah suatu perusahaan menerapkan prinsip-prinsip manajemen supply chain atau tidak, perusahaan tersebut akan tetap menjadi bagian dari suatu supply chain. Bahkan perusahaan bisa menjadi bagian lebih dari satu supply chain sekaligus. Supermarket seperti Carrefour misalnya, pada saat yang sama ia menjadi ujung paling bawah (downstream) dari supply chain untuk banyak produk sekaligus. Posisi perusahaan dalam berbagai supply chain dimana ia beroperasi pun bisa berlainan. Perusahaan ban Goodyear misalnya, ia menjadi pemasok untuk pabrik perakitan mobil ketika kita pandang ia sebagai bagian dari supply chain produk mobil. Pada saat yang sama ia juga menjadi manufacturer akhir yang memasok ban langsung ke distributor dan retailer untuk pasar pengguna mobil yang membutuhkan penggantian ban. Di industri elektronika, perusahaan seperti Motorola bisa menjadi supplier bagi AT&T pada supply chain produk tertentu, di lain produk Motorola bisa menjadi customer dari AT&T.

Sekarang ini, supply chain tidak hanya melibatkan aliran barang dari hulu ke hilir tetapi juga melibatkan aliran barang sebaliknya yaitu dari konsumen kembali ke manufacturer, atau yang disebut dengan reverse supply chain. Aktivitas-aktivitas reverse supply chain meliputi: pengembalian produk cacat, services and maintenance, ataupun aktivitas daur ulang.

Sangat penting untuk dicatat bahwa dalam suatu supply chain terdapat tiga macam aliran utama, yaitu aliran produk, uang dan informasi. Pengelolaan dan sinkronisasi ketiga aliran inilah yang menjadi ruh dan jiwa dari supply chain management.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar