Senin, 07 Juni 2010

Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management)

Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah ‘proses payung’ di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. (Kalakota, 2000, h197)

Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001, h5). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut.

Pengertian Supply chain management

Manajemen Rantai Suplai adalah koordinasi dari bahan,informasi dan arus keuangan antara perusahaan yang berpartisipasi. Manajemen rantai suplai bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai.

  • Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen melalui rantai, sama baiknya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur ulang dan pembuangan.
  • Arus informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status pesanan, arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyedia material mentah.
  • Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran dalam penetapan kepemilikandan pengiriman. (Kalakota, 2000, h198)

Menurut Turban, Rainer, Porter (2004, h321), terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu:

  • Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain

Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

  • Manajemen Internal Suplai Rantai/Internal supply chain management

Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

  • Segmen Rantai Suplai Hilir/Downstream supply chain segment

Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.

Permasalahan Manajemen Suplai Rantai

Manajemen suplai rantai harus memasukan problem dibawah:

  • Distribusi Konfigurasi Jaringan: Jumlah dan lokasi supplier, fasilitas produksi, pusat distribusi ( distribution centre/D.C.), gudang dan pelanggan.
  • Strategi Distribusi: Sentralisasi atau desentralisasi, pengapalan langsung, berlabuh silang, strategi menarik atau mendorong, logistic orang ke tiga.
  • Informasi: Sistem terintregasi dan proses melalui rantai suplai untuk membagi informasi berharga, termasuk permintaan sinyal, perkiraan, inventaris dan transportasi dsb.
  • Manajemen inventaris : Kuantitas dan lokasi dari inventaris termasuk barang mentah, proses kerja, dan barang jadi.
  • Aliran dana: Mengatur syarat pembayaran dan metodologi untuk menukar dana melewati entitas didalam rantai suplai.

Eksekusi rantai suplai ialah mengatur dan koordinasi pergerakan material, informasi dan dana diantara rantai suplai tersebut. Alurnya sendiri dua arah.

Aktivitas/Fungsi

Manajemen rantai suplai ialah pendekatan antar-fungsi (cross functional) untuk mengatur pergerakan material mentah kedalam sebuah organisasi dan pergerakan dari barang jadi keluar organisasi menuju konsumen akhir. Sebagaimana korporasi lebih fokus dalam kompetensi inti dan lebih fleksibel, mereka harus mengurangi kepemilikan mereka atas sumber material mentah dan kanal distribusi. Fungsi ini meningkat menjadi kekurangan sumber ke perusahaan lain yang terlibat dalam memuaskan permintaan konsumen, sementara mengurangi kontrol manajemen dari logistik harian. Pengendalian lebih sedikit dan partner rantai suplai menuju ke pembuatan konsep rantai suplai. Tujuan dari manajemen rantai suplai ialah meningkatkan ke[percayaan dan kolaborasi diantara rekanan rantai suplai, dan meningkatkan inventaris dalam kejelasannya dan meningkatkan percepatan inventori.

Secara garis besar, fungsi manajemen ini bisa dibagi tiga, yaitu distribusi, jejaring dan perencaan kapasitas, dan pengembangan rantai suplai.[1]

beberapa model telah diajukan untuk memahami aktivitas yang dibutuhkan untuk mengatur pergerakan material di organisasi dan batasan fungsional. SCOR adalah model manajemen rantai suplai yang dipromosikan oleh Majelis Manajemen Rantai Suplai. Model lain ialah SCM yang diajukan oleh Global Supply Chain Forum (GSCF). Aktivitas suplai rantai bisa dikelompokan ke tingkat strategi, taktis, dan operasional.

Strategis

  • Optimalisasi jaringan strategis, termasuk jumlah, lokasi, dan ukuran gudang, pusat distribusi dan fasilitas
  • Rekanan strategis dengan pemasok suplai, distributor, dan pelanggan, membuat jalur komunikasi untuk informasi amat penting dan peningkatan operasional seperti cross docking, pengapalan langsung dan logistik orang ketiga
  • Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa diintregasikan secara optimal ke rantai suplai,manajemen muatan
  • Keputusan dimana membuat dan apa yang dibuat atau beli
  • Menghubungkan strategi organisasional secara keseluruhan dengan strategi pasokan/suplai

Taktis

  • Kontrak pengadaan dan keputusan pengeluaran lainnya
  • Pengambilan Keputusan produksi, termasuk pengontrakan, lokasi, dan kualitas dari inventori
  • Pengambilan keputusan inventaris, termasuk jumlah, lokasi, penjadwalan, dan definisi proses perencanaan.
  • Strategi transportasi, termasuk frekuensi, rute, dan pengontrakan
  • Benchmarking atau pencarian jalan terbaik atas semua operasi melawan kompetitor dan implementasi dari cara terbaik diseluruh perusahaan
  • Gaji berdasarkan pencapaian

Operasional

  • Produksi harian dan perencanaan distribusi, termasuk semua hal di rantai suplai
  • Perencanaan produksi untuk setiap fasilitas manufaktru di rantai suplai (menit ke menit)
  • Perencanaan permintaan dan prediksi, mengkoordinasikan prediksi permintaan dari semua konsumen dan membagi prediksi dengan semua pemasok
  • Perencanaan pengadaan, termasuk inventaris yang ada sekarang dan prediksi permintaan, dalam kolaborasi dengan semua pemasok
  • Operasi inbound, termasuk transportasi dari pemasok dan inventaris yang diterima
  • Operasi produksi, termasuk konsumsi material dan aliran barang jadi (finished goods)
  • Operasi outbound, termasuk semua aktivitas pemenuhan dan transportasi ke pelanggan
  • Pemastian perintah, penghitungan ke semua hal yang berhubungan dengan rantai suplai, termasuk semua pemasok, fasilitas manufaktur, pusat distribusi, dan pelanggan lain

Strukturisasi dan Tiering

Jika dilihat lebih dekat pada apa yang terjadi dalam kenyataannya, istilah rantai suplai mewakili sebuah serial sederhana dari hubungan antara komoditas dasar dan produk akhir. Produk akhir membutuhkan material tambahan kedalam proses manufaktur.

Arus Material dan Informasi

Tujuan dalam rantai suplai ialah memastikan material terus mengalir dari sumber ke konsumen akhir. Bagian-bagian (parts) yang bergerak didalam rantai suplai haruslah berjalan secepat mungkin. Dan dengan tujuan mencegah terjadinya penumpukan inventori di satu lokal, arus ini haruslah diatur sedemikian rupa agar bagian-bagian tersebut bergerak dalam koordinasi yang teratur. Istilah yang sering digunakan ialah synchronous. (Knill, 1992)

tujuannya selalu berlanjut, arus synchronous. Berlanjut artinya tidak ada interupsi, tidak ada bola yang jatuh, tidak ada akumulasi yang tidak diperlukan. Dan synchronous berarti semuanya berjalan seperti balet. Bagian-bagian dan komponen-komponen dikirim tepat waktu, dalam sekuensi yang seharusnya, sama persis sampai titik yang mereka butuhkan.

[2]

Terkadang sangat susah untuk melihat sifat arus "akhir ke akhir" dalam rantai suplai yang ada. Efek negatif dari kesulitan ini termasuk penumpukan inventori dan respon tidak keruan pada permintaan konsumen akhir. Jadi, strategi manajemen membutuhkan peninjauan yang holistik pada hubungan suplai.

Teknologi informasi memungkinkan pembagian cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh rantai suplai ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diarahkan pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialha mengintegrasikan data permintaan dan suplai jadi gambaran yang akuarasinya sudah meningkatdapat diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Jadi dengan adanya integrasi ini dalam rantai suplai akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.[3]

I. Evolusi dan Jaringan Terintegrasi didalam SCM
Tantangan yang dihadapi dunia manufaktur berubah dan semakin berat dari masa ke masa. Di era tahun 1960-an orang mengenal Ford sebagai salah satu perusahaan ternama didunia. Mereka terkenal dengan kemampuannya memproduksi mobil yang standar, yaitu ’Model T’ berwarna hitam. Ford mengatakan akan memenuhi semua permintaan ’any color as long as it is black’. Sistem produksi mereka kita kenal dengan istilah mass production atau produksi masal.
Sistem produksi masal sangat mementingkan jumlah output yang dihasilkan per satuan waktu. Produktivitas, efisiensi, dan utilitas sistem produksi adalah tiga kata kunci. Pada sistem seperti ini kecepatan kerja operator diukur dan dijadikan dasar untuk menentukan upah. Menciptakan keseimbangan lintasan produksi juga menjadi kunci tercapainya produktivitas pada sistem produksi massal. Ilmu pengukuran waktu kerja dan metode kerja sangat relevan dengan sistem seperti ini.
Tahun 70-80-an persaingan dunia manufaktur meningkat seiring dengan munculnya perusahaan-perusahaan baru dan mulai diperhitungkannya industri Jepang dalam dunia bisnis global. Keunggulan bersaing pada era ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan sebuah industri untuk menciptakan banyak output per satuan waktu. Produktivitas memang tetap penting, tapi tidak cukup sebagai bekal untuk bersaing di pasar. mulai bisa membedakan produk berdasarkan kualitasnya. Pengendalian kualitas tidak lagi cukup hanya melihat proses. Bahkan orang mulai sadar bahwa kualitas produk juga tidak lepas dari kualitas bahan baku yang dikirim oleh supplier. Muncullah kemudian konsep dan teknik pengendalian kualitas seperti Statiscal Process Control (SPC) dan Total Quality Management (TQM).
Seiring dengan pasar yang semakin meng-global dan munculnya teknologi informasi, persaingan di dunia bisnis semakin ketat. Tuntutan juga semakin tinggi. Mendapatkan produk murah dan berkualitas tidaklah cukup. Variasi produk menjadi penting. Menyadari pentingnya variasi produk untu memenuhi kebutuhan pasar, Alfred P. Sloan membalas semboyan Henry Ford dengan ’a car for every purse and purpose’ yang kemudian didukung oleh General Motor dengan strategi segmentasi pasar berdasarkan nilai (value) dan harga. juga mulai menuntut aspek kecepatan respon, inovasi dan fleksibilitas.
Kegiatan perencanaan produksi, distribusi, transportasi dilihat sebagai aktivitas yang terpisah satu sama lain. Ketika pelanggan menjadi semakin kritis, mereka menuntut penyediaan produk secara tepat tempat, tepat waktu. Perusahaan manufaktur yang antisipatif akan hal tersebut akan mendapatkan sedangkan yang tidak antisipatif akan kehilangan . Supply chain management menjadi satu solusi terbaik untuk memperbaiki tingkat produktivitas antara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Keunggulan kompetitif dari SCM adalah bagaimana ia mampu me-manage aliran barang atau produk dalam suatu rantai supply. Dengan kata lain, model SCM mengaplikasikan bagaimana suatu jaringan kegiatan produksi dan distribusi dari suatu perusahaan dapat bekerja bersama-sama untuk memenuhi tuntutan pelanggan.
Tujuan utama dari SCM adalah: pernyerahan/ pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan pelanggan, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan), mengurangi waktu, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi.
Pelaku industri pun mulai sadar bahwa untuk menyediakan produk yang murah, berkualitas dan cepat, perbaikan di internal sebuah perusahaan manufaktur tidaklah cukup. Ketiga aspek tersebut membutuhkan peran serta semua pihak mulai supplier yang mengolah bahan baku dari alam menjadi komponen, pabrik yang mengubah komponen dan bahan baku mnjadi produk jadi, perusahaan transportasi yang mengirimkan bahan baku dari supplier ke pabrik, serta jaringan distribusi yang akan menyampaikan produk ke tangan . Kesadaran akan pentingnya peran semua pihak dalam menciptakan produk yang murah, berkualitas dan cepat inilah yang kemudian menciptakan produk yang murah dan berkualitas serta cepat inilah yang kemudian melahirkan konsep baru tahun 1990-an yaitu supply chain management (SCM).




Gambar 1. Jaringan Supply Chain Management


Sejak SCM terlibat dalam aktifitas antar perusahaan, prosenya meliputi berbagai fungsi seperti supply raw material, manajen produksi, transportasi, manajemen inventori, sistem informasi (SIM), proses order, penanganan material dan manajemen . Istilah logistik yang lebih sederhana diidentifikasikan sebagai kombinasi diantara fungsi – fungsi tersebut. Lebih jauh lagi, prosedur yang berhubungan dengan ijin bea cukai ditambahkan adalam kasus internasional SCM.
Salah satu fitur utama pada SCM adalah memproses integrasi vertikal dari suppllier ke pelanggan yang dapat dilakukan melalui aliansi strategi antar perusahaan. Di salah satu sisi terdapat kasus dimana seluruh proses vertikal dibawa oleh suatu perusahaan, selama optimasi total lebih besar daripada jumlah optimasi parsial. Secara umum, optimasi total dalam supply chain adalah lebih besar daripada optimasi parsial dalam rantai individu. Bagaimanapun juga, jika suatu perusahaan dapat mengaplikasikan seluruh proses supply chain didalamnya menjadi suatu organisasi dengan skala yang lebih besar, dapat menghasilkan biaya administrasi yang tinggi. Di sisi lainya, terdapat kasus dimana setiap perusahaan adalah independen dari perusahaan lainnya dan bertransaksi secara individu dalam proses vertikal tanpa strategi. Aliansi antar perusahaan, yang membuat keuntungan optimasi lebih rendah dan biaya administrasi lebih rendah. Posisi dari SCM berada pada kedua sisi tersebut. Masing – masing perusahaan independen secara strategi berhubungan dengan perusahaan lainnya dalam proses integrasi vertikal.

I. 1 SCM dan Pengembangan IT
Dalam mengatur aliran barang dalam supply chain, setiap perusahaan harus selalu mempertimbangkan persoalan bagaimana memproses informasi. Proses informasi adalah salah satu fungsi utama pada SCM dalam dekade saat ini. Inovasi dalam teknologi informasi telah memberikan kesempatan untuk menaikkan kapabilitas proses informasi. Oleh karena itu untuk meningkatkan informasi performa SCM, teknologi informasi memberikan dua kontribusi dalam SCM :
1. Perbaikan dan berbagai informasi diantara perusahaan,
2. Indentifikasi permasalahan yang tepat dan optimasi.
Pertama, telah dibicarakan elektronik data adalah suatu cara yang efektif untuk mempromosikan pembagian informasi dengan tepat diantara perusahaan sehingga bertepatan dengan tujuan SCM. Elektronic Data Interchange (EDI) didefinisikan sebagai suatu hubungan online komputer dan pertukaran informasi pada setiap transaksi diantara perusahaan – perusahaan yag sudah terintegrasi didalam suatu jaringan. Bagaimanapun juga, diperlukan elektronik data khusus untuk dimasukkan kedalam suatu value added network atau saluran yang dibuka dengan tujuan untuk membagi suatu jaringan. Jumlah model yang sangat besar untuk berinvestasi dalam suatu value added network atau saluran yang dibuka telah menjadi alasan utam mengapa manajemen elektronic data interchange, electronic data interchange logistic telah menjadi sangat lambat.
Bagaimanapun juga suatu permasalahan investmen kemungkinan besar juga dapat diselesaikan dengan menyebarkan teknologi internet. Pembagian informasi diantara perusahaan dapat diandalkan dengan web elektronik data interchange. Daripada membuka saluran elektronic data interchange. Meskipun kenyataannya internet menimbulkan beberapa masalah pada keamanan dan standarisasi, web elektronic data interchange sangat berguna dikarenakan memiliki biaya yang rendah pada investmen dibandingkan dengan memberikan jaringan terbuka. Dari manfaat ini web elektronik data interchange telah memberikan kemungkinan dalam mempromosikan pembagian informasi diantara perusahaan lebih jauh lagi, penggunaan internet dikombinasikan dengan ITS menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki sistem logistik.
Pembagian informasi tidak hanya diperkenalkan oleh perusahaan swasta tetapi oleh pemerintah juga sebagi contoh dalam logistik internasional, sejak wewenang pemerintah tidak terhubung secara effisien dengan yang lainnya atau dengan perusahaan swasta ketika melakukan prosedur bea cukai, ini menjadi sumber hambatan dalam logistik.
Disamping kemudahan penggunaan dari EDI atau Web – EDI, ERP juga telah mendapatkan perhatian yang luas. ERP adalah suatu metode yang mengatur informasi dengan tujuan berbagi informasi perusahaan pada saat ini. Pengenalan ERP dalam setiap perusahaan adalah komplementasi satu dengan yang lainnya oleh EDI agar berbagai informasi dapat diolah diantara perusahaan dalam suatu jaringan SCM.
Kedua, karena berbagai informasi memberikan bayak data yang tersedia, kita harus merumuskan masalah berdarkan data, dan menemukan cara untuk penyelesaiannya. Perkembangan aplikasi software sebenarnya untuk menyelesaikan berbagai masalah telah mendapatkan keuntungan lebih besar dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Software untuk merealisasikan SCM secara bersamaan disebut Supply Chain Planning Software (SCPS). SCPS terdiri dari beberapa software pada manufacturing planning, demand forecasting, transportation planning, inventory management schedulling dan lain – lain. Pada umumnya, kemampuan teknologi informasi telah mengembangkan secara cepat pembagian atau berbagai informasi diantara perusahaan yang diperlukan untuk SCM, dan telah menyebabkan perbaikan dalam kualitas dari aplikasi software untuk memproses informasi atau software supply chain planning.

II. Tahapan – Tahapan Perkembangan Teknologi Informasi SCM Manufactur
Dalam lingkungan manufaktur, perbaikan terhadap produktivitas mengalami pembenahan terus-menerus dan hal itu telah menjadi isu besar bagi setiap orang. Sejak komputer ditemukan dan digunakan secara luas dalam industri perdagangan, IT telah menyodorkan berbagai macam solusi dalam rangka perbaikan tingkat produktivitas. Sekitar 30 tahun lalu MRP (Material Requirement Planning/ Perencanaan Permintaan Barang) hadir di dunia. Inilah awal mulanya komputer menambah sistem perencanaan guna mendukung bidang manufaktur. MRP telah berkembang begitu pesat di seluruh dunia dan pada setiap industri manufaktur sebagaimana komputer berkembang menjadi populer. Penagihan atas barang - yang sebelumnya dilakukan dengan menggunakan kertas, kini semuanya dilakukan secara digital dan ditayangkan dalam komputer - sehingga bisa diperhitungkan berapa jumlah barang untuk memenuhi perencanaan produksi atas produk akhir.
Setelah penggunaan MRP menjadi populer metode itu sendiri mengalami pembenahan secara bertahap
1. Close – Loop MRP, beberapa karakteristik yang dimiliki oleh Close-Loop MRP adalah :
• Merupakan sederetan fungsi, tidak hanya material requirement planning
• Terdiri atas alat bantu untuk menyelesaikan masalah prioritas dan perencanaan kapasitas dan dapat mendukung perencanaan dan eksekusi.
• Menyediakan fasilitas umpan balik dari fungsi eksekusi ke fungsi perencanaan.
• Rencana dapat dirubah / diganti jika diperlukan dengan menjaga agar prioritas tetap valid juka terjadi perubahan kondisi
2. MRP II. Merupakan penyempurnaan dari Close-Loop MRP. Karakteristik MRP II ini sama dengan Closed-Loop MRP, namun ditambah elemen lain, yaitu :
• Perencanaan Penjualan dan Operasi : proses yang digunakan untuk menyeimbangkan antara permintaan dan persediaan, sehingga manajemen puncak dapat melakukan control atas aspek operasional bisnis.
• Antar muka keuangan, kemampuan menerjemahkan rencana operasional (dalam bentuk piece, kg, gallon dan satuan lainnya) menjadi satuan biaya (dalam mata uang tertentu, misalnya dolar).
• Simulasi, kemampuan melakukan analisis “ what if “ untuk mendapatkan jawaban yang mungkin diterapkan, baok dalam satuan unit maupun jumlah uang.
3. ERP (Enterprise Resource Planning)
Adalah kemasan bisnis software yang mengatur seluruh dasar bisnis dalam perusahaan manufactur dalam suatu lingkungan yang sama. Area bisnis yang dilingkup oleh ERP adalah: akuntansi keuangan, akuntansi pengendalian, penjualan, manajemen material, pembelian, perencanaan produksi, manajemen sumberdaya manusia, dan sebagainya. Dan semua aplikasi bisnis dapat dinyatakan dalam sebuah komputer kecil (Unix machine, atau Windows NT Machine) sama dengan komputer mainframe IBM pada tahun 1980-an. Dan dapat dengan mudah membiasakan dirinya dengan sistem ini dalam praktek bisnisnya. Data antara setiap bagian dalam perusahaan dapat menjadi transparan. Hal ini membuat supply chain dalam suatu perusahaan dapat menjadi lebih sederhana dan efisien.
4. Extended ERP II
ERP berikutnya mulai diluncurkan sekitar tahun 2000. ERP ini sering disebut dengan extended ERP. Perluasan ERP ini dibandingkan dengan ERP generasi pertama adalah mencakup fungsi yang dapat menjembatani komunikasi dengan supplier dan nya. Sistem ERP sebelumnya lebih berfokus pada , proses produksi, transaksi real time dan manajemen asset perusahaan. Pengembangan sistem ERP menjadi extended ERP selain berfokus pada juga pada usaha optimasi seluruh jaringan bisnis, termasuk integrasi dengan supplier.


Semua pengembangan informasi tersebut dilakukan dalam rangka memperbaiki computing power dari hard ware dan IT Technology. Walaupun banyak perkembangan teknologi di manufacture khusunya dalam bidang SCM, namun semuanya terintegrasi didalam suatu system yang terpusat. CIM (Computer Integrated Manufacturing) adalah gagasan yang menggabungkan sistem produksi dengan sistem penjualan. Sebelumnya, bagian penjualan dan bagian operasi berjalan secara terpisah dengan sekumpulan data transfer mingguan dan bulanan. Dengan memadukan sistem penjualan dan operasi melalui pertukaran data harian atau dalam komputer yang tersentralisasi, berbagai perubahan yang terjadi dalam jumlah penjualan dapat terrefleksi dalam perencanaan produksi. Hal ini sangat esensial dalam mengatasi fluktuasi pasar.
Hal yang menarik dari proses evolusi tersebut adalah, bahwa makin hari makin banyak fungsi yang terlibat dan meliputi berbagai dimensi (area fungsional, kombinasi antara proses transaksi dan dukungan atas pengambilan keputusan, dan penyertaan mitra bisnis pada sistem). Konsep yang mendasari semua ini adalah integrasi, artinya konsep tersebut akan berhasil diterapkan jika didukung oleh sebuah sistem software yang terintegrasi. Berikut manfaat penting dari sistem terintegrasi sebagai berikut :
• Manfaat terhitung (tangible) : pengurangan inventory dan sumber daya manusia, peningkatan produktivitas, pengelolaan order, dan siklus pengelolaan keuangan, pengurangan biaya teknologi informasi dan biaya pengadaan, peningkatan manajemen keuangan, pendapatan (keuntungan), pengurangan biaya transpportasi dan logistik, penguranagan biaya pemeliharaan, dan peningkatan kualitas pengiriman produk yang tepat waktu.
• Manfaat tidak terhitung (intangible) : visibilitas dan trasnparasi informasi, peningkatan proses atau terciptanya proses baru, pandangan posistif pelanggan atas perusahaan, fleksibilitas, globalisasi, dan peningkatan kinerja bisnis.

Ada banyak paket software dari SCM yang sesuai dengan kondisi pasar. Perusahaan yang telah menerapkan SCM sangat sukses dalam memperbaiki tingkat produktivitasnya dan tentunya meningkatkan keuntungan secara dramatis. Penggunaan internet yang makin populer mendorong setiap perusahaan dapat bekerjasama untuk membangun suatu supply chain sehingga terbentuklah apa yang disebut dengan virtual company. Melalui teknologi ini, suatu perusahaan yang begitu unggul dalam bidang pemasaran dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan kecil lainnya yang mungkin memiliki keunggulan dalam bidang manufacturing, penjualan, distribusi, dan sebagainya.

III. Komponen Supply Chain Management dan Teknologi
Sistem SCM memiliki kemampuan sebagai berikut:
- Aliran informasi bergerak sangat cepat dan akurat antara elemen jaringan supply chain seperti: Pabrik, Suppliers, Pusat distribusi, pelanggan, dan sebagainya.
- Informasi bergerak sangat cepat untuk menanggapi perpindahan produk.
- Setiap elemen dapat mengatur dirinya
- Terjadi integrasi dalam proses permintaan dan penyelesaian produk
- Kemampuan internet.
Peralatan fungsional yang dimiliki sistem SCM adalah:
1. Demand management/forecasting
Perangkat peralatan dengan menggunakan teknik-teknik peramalan secara statistik. Perangkat ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil peramalan yang lebih akurat.

2. Advanced planning and scheduling
Suatu peralatan dalam rangka menciptakan taktik perencanaan, jangka menengah dan panjang berikut keputusan-keputusan menyangkut sumber yang harus diambil dalam rangka melengkapi jaringan supply .
3. Transportation management
Suatu fungsi yang berkaitan dengan proses pendisitribusian produk dalam supply chain .
4. Distribution and deployment
Suatu alat perencanaan yang menyeimbangkan dan mengoptimalkan jaringan distribusi pada waktu yang diperlukan.
5. Production planning
Perencanaan produksi dan jadwal penjualan menggunakan taraf yang dinamis dan teknik yang optimal.
6. Available to-promise
Tanggapan yang cepat dengan mempertimbangkan alokasi, produksi dan kapasitas transportasi serta biaya dalam keseluruhan rantai supply .
7. Supply chain modeler
Perangkat dalam bentuk model yang dapat digunakan secara mudah guna mengarahkan serta mengontrol rantai supply. Melalui model ini, mekanisme kerja dari konsep supply chain dapat diamati.
8. Optimizer
The optimizer ibarat jantung dari sistem supply chain management. Dalamnya terkandung: linear & integer programming, non-linear programming, heuristics and genetic algorithm. Genetic algorithm adalah suatu computing technology yang mampu mencari serta menghasilkan solusi terbaik atas jutaan kemungkinan kombinasi atas setiap parameter yang digunakan.

III. 1 Aplikasi Penggunaan Teknologi Informasi SCM Pada Perusahaan.
Penggunaan Teknologi Informasi dapat dilihat pada PT. Yanmar Diesel Indonesia yang telah menerapkan sistem teknologi informasi MRP II untuk menyelengganrakan kegiatan proses produksinya. PT. Yanmar Diesel Indonesia (YADIN) ini merupakan pabrik manufaktur perakitan mesin diesel untuk aplikasi pertanian, industri dan kelautan yang mempunyai kapasitas produksi 40.000 unit engine yang dihasilkan.
Secara umum proses pendistribusian komponen-komponen terutama komponen lokal mesin diesel adalah komponen yang meliputi raw material, sub material dan finish good material akan dikirim oleh supplier ke YADIN berdasarkan schedule yang telah ditetapkan oleh YADIN. Komponen-komponen tersebut sebelum diproses assy maupun machining akan terlebih dahulu dicek secara random oleh divisi quality control bagian incoming inspection. Apabila komponen yang dicek oleh quality control presentasinya > 10% dari total komponen yang dikirim oleh supplier, maka komponen tersebut dapat disimpulkan reject semua. Komponen yang telah lolos cek visual maupun dimensi oleh quality control berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh YADIN, maka akan diambil oleh divisi warehouse untuk disimpan secara baik dan aman untuk diteruskan ke divisi produksi yang meliputi assembling, painting dan machining berdasarkan planning produksi yang telah ditetapkan oleh PCD (Production Control Division).
Komponen-komponen yang telah diassy menjadi engine akan ditest running terlebih dahulu sebelum dipacking. Setelah dinyatakan ‘OK’ oleh bagian test running, engine tersebut dipacking dan dikirim ke Yanmar Agriculture Indonesia (YAMINDO) di Sidoarjo untuk dirangkai dengan aplikasi penunjang sesuai dengan permintaan pasar, seperti hand body tractor, mesin kapal, mesin pengupas gabah dan lain sebagainya. Setelah dirangkai dengan aplikasi penunjang maka engine tersebut akan dikirim ke main dealer YANMAR diseluruh Indonesia untuk dijual ke para .

Untuk memudahkan proses pelaksanaan produksi, PT Yanmar Diesel Indonesia menggunakan suatu sistem komputerisasi yang terintegerasi, yang bisa diakses oleh tiap-tiap departemen. Sistem yang digunakan oleh YADIN adalah AS/400, oleh YADIN, sistem ini dinamakan YGLS (Yanmar Global Logistic System)

Sistem ini mempunyai beberapa komponen menu-menu utama, yaitu :
1. Menu order penjualan
2. Menu pembelian dan penerimaan
3. Menu pengiriman produk
4. Menu pengiriman komponen (spare parts)
5. Menu perencanaan produksi
6. Menu pembelian material (order pembelian)
7. Menu manufaktur (terdiri dari assembling, machining, painting, dan packing)
8. Menu distribusi material ke unit-unit produksi
9. Menu pengaturan penyimpanan material di gudang
10. Menu manajemen harga (financial dan accounting)
11. Menu perhitungan kembali stok material (tiap 6 bulan sekali)
12. Menu master seluruh produk (meliputi input harga, delivery lead time, stock taking, lot delivery, komponen-komponen dari suatu engine)
13. Menu produksi bulanan
Menu-menu diatas sangat berguna sebagai acuan, terutama pada tiap-tiap departmen untuk mengawasi peredaran material-material untuk diproses lebih lanjut (machining, painting, assembling dan packing).

III. 2. Mencapai Supply Chain Terintegrasi
Ada beberapa tahapan untuk mencapai suatu system SCM yang terintegrasi :
1. Tahap 1 : Baseline (dasar) posisi dari kebebasan fungsional yang lengkap dimana masing – masing fungsi bisnis seperti produksi dan pembelian melakukan aktifitas mereka secara sendiri – sendiri dan terpisah dari fumgsi bisnis yang lain.
2. Tahap 2 : Integrasi fungsional perusahaan telah menyadari perlu sekurang-kurangnya ada penggabungan antara fungsi – fungsi yang melakukan aktifitas hamper sama, misalnya antara bagian distribusi dan manajemen persediaan atau pembelian dengan pengendalian material
3. Tahap 3 : Integrasi secara internal diperlukan pengadaan dan pelaksanaan kerangka kerja end - to – end.
4. Tahap 4 : Integrasi secara eksternal merupakan integrasi supply chain yang sebenarnya karena mempunyai konsep menghubungkan dan mengkoordinasikan suatu hasil yang telah dicapai pada tahap 3 dan diperluas dengan cara menjalin suatu hubunga dengan supplier dan .
Meskipun adanya kebutuhan atas sistem terintegrasi sudah lama disadari oleh industri manufaktur, tetapi pada awalnya konsep dan sistem pendukung yang dibangun tidaklah terintegrasi penuh, tetapi hanya mengintegrasikan beberapa segmen manufaktur tersebut.
Beberapa konsep dan system yang pernah dibangun dan diterapkan untuk mendukung masing – masing proses dan fungsi dalam system manufaktur misalnya PDM, MRP II, JIT, KANBAN, CRM dan SCM. Beberapa system kemudian dilebur dalam satu konsep terintegrasi yaitu ERP, beberapa lagi dioperasikan dengan pemilihan beberapa modul, sehingga terkesan saling tumpamg tindih (overlap).
Secara garis besar, dukungan sistem – sistem terintegrasi ini dapat dipetakan pada masing – masing proses pada model pertambahan nilai. Jika pemetaan ini dikaitkan dengan pelaku yang terlibat dalam proses serta dukungan masing – masing system baik yang terintegrasi maupun yang specific, maka hasilnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

IV. Trend Teknologi Informasi SCM di Masa Depan
Teknologi internet dan web merupakan topik terhangat dalam SCM akhir- akhir ini. Banyak orang percaya bahwa internet merupakan alat yang sangat bermanfaat bagi komunikasi. E-mail adalah media yang bagus bagi orangorang untuk berkomunikasi satu dengan yang lain. Contoh dari bisnis yang menggunakan internet adalah E-Commerce. Di sini komunikasi terjadi antara perusahaan dengan konsumer, atau disebut Business to Consumer (B2C). Contoh B2C ini adalah Amazon.com dan Dell.
Ke depan, e-commerce tak lagi sekedar B2C tapi Business to Business (B2B). Ada beberapa area dimana internet mempunyai peranan sangat besar dalam B2B.


1. Maintenance Repair and Operation (MRO).
Dalam MRO, persyaratan pembelian biasanya berasal dari interaksi manual para operator pembelian. Sebelum ada B2B perocurement, orang-orang memerlukan barang di kantor atau di pabrik mengisi formulir pembelian di secarik kertas yang harus ditandatangani oleh beberapa manajer sebelum akhir barang diorder. Setelah ada B2B procurement, orang- orang yang memerlukan barang memasuki internet, dan menseleksi barang-barang yang dibutuhkan melalui katalog, kemudian meminta persetujuan manajer, setelah itu memesan pada supplier tanpa gangguan “tangan” departemen pembelian. Ini mengurangu labour cost di departemen pembelian.
2. Direct Material Purchashing (DMP).
Banyak perusahaan sekarang mencoba untuk mendapatkan solusi mengurangi biaya pembelian bahan baku langsung untuk produksi di pabrik. Pada perusahaan manufakturing, biasanya persyaratan material dihitung berdasarkan rencana produksi dan bill of material (BOM). Kemudian hasilnya dikirim melalui EDI (Electric Data Interchange) kepada vendor individual. Tetapi data yang bisa ditransfer EDI adalah sangat terbatas. Salah satu contoh penggunaan internet dan XML (Extensible Markup Language) teknologi adalah Rosettanet, yaitu sebuah konsorsium yang dipelopori oleh perusahaan-perusahaan IT dan Elektrik AS, seperti IBM, HP, Dll, Intel dan Microsoft.
3. E-Marketplace.
Adalah sebuah portal internet dimana perusahaan dapat melakukan pertukaran bahan baku. Contoh; ketika perusahaan manufaktur PC ingin membeli beberapa CPU chips pada harga yan rendah, mereka mengumumkan persyaratan bahan baku dan kuantitasnya di market place. Ada banyak e-marketplace yang lahir sejak tahun lalu. Mereka kebanyakan terdiri dari banyak industri yang spesifik. Contohnya adalah e-hitex untuk industri teknologi tinggi dan Covisint untuk industri mobil.



V. Kesimpulan
1. Seiring dengan pasar yang semakin meng-global dan munculnya teknologi informasi, persaingan di dunia bisnis semakin ketat. Tuntutan pelangganpun semakin tinggi sehingga menuntut perusahaan untuk meningkatkan kualitas dengan biaya yang efisien dan efektif. Tuntutan pelanggan semakin bervariasi, mulai dari jenis produk sampai pada jenis pelayanan yang berkaitan dengan sistem atau teknologi yang digunakan perusahaan. Supply Chain Management merupakan sistem yang dapat memenuhi tuntutan tersebut.
2. Tujuan utama dari Supply Chain Management adalah: pernyerahan/ pengiriman produk secara tepat tempat dan tepat waktu demi memuaskan pelanggan, mengurangi biaya, meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan), mengurangi waktu, memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi.
3. PT. Yanmar Diesel Indonesia telah menerapkan sistem Supply Chain Management dan menggunakan sistem komputerisasi yang terintegrasi yaitu sistem AS/400 yang dinamakan YGLS (Yanmar Global Logistic System) dengan fungsi mengakses berbagai informasi berkaitan dengan beberapa komponen menu-menu utama, yaitu :
- Menu order penjualan
- Menu pembelian dan penerimaan
- Menu pengiriman produk
- Menu pengiriman komponen (spare parts)
- Menu perencanaan produksi
- Menu pembelian material (order pembelian)
- Menu manufaktur (terdiri dari assembling, machining, painting, dan packing)
- Menu distribusi material ke unit-unit produksi
- Menu pengaturan penyimpanan material di gudang
- Menu manajemen harga (financial dan accounting)
- Menu perhitungan kembali stok material (tiap 6 bulan sekali)
- Menu master seluruh produk (meliputi input harga, delivery lead time, stock taking, lot delivery, komponen-komponen dari suatu engine)
4. Aplikasi Teknologi Informasi terintegrasi dengan memanfaatkan internet dalam Supply Chain Management yang telah diterapkan PT. Yanmar Diesel Indonesia sangat bermanfaat dalam mengelola informasi dari seluruh komponen pendukung Supply Chain sehingga mampu memenuhi tuntutan dari pelanggan. Dan hal ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi perusahaan lain untuk menerapkan Aplikasi Teknologi Informasi terintegrasi dalam Supply Chain Management.
5. Dengan mengimplementasikan aplikasi Teknologi Informasi Terintegrasi dalam Supply Chain Management bukan hanya mampu memenuhi tuntutan pelanggan tetapi juga mampu memperbaiki/meningkatkan produktivitas perusahaan yang tentunya sampai pada perbaikan/peningkatan margin perusahaan.

Istilah supply chain dan supply chain management sudah menjadi jargon yang umum kita jumpai di berbagai media baik majalah manajemen, buletin, koran, buku ataupun dalam diskusi-diskusi. Namun tidak jarang kedua term diatas di persepsikan secara salah. Banyak yang mengkonotasikan supply chain sebagai suatu software. Bahkan ada yang mempersepsikan bahwa supply chain hanya dimiliki oleh perusahaan manufaktur saja, sehingga pernah suatu saat saya menerima statement dari petinggi perusahaan bahwa perusahaannya tidak memiliki supply chain karena tidak memiliki fasilitas produksi sama sekali.

Sebagai disiplin, supply chain management memang merupakan suatu disiplin ilmu yang relative baru. Cooper (1997) bahkan menyebut istilah “supply chain management” baru muncul di awal tahun 90-an dan istilah ini diperkenalkan oleh para konsultan manajemen. Saat ini supply chain management merupakan suatu topic yang hangat, menarik untuk didiskusikan bahkan mengundang daya tarik yang luar biasa baik dari kalangan akademisi maupun praktisi.

Supply Chain

Supply chain dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir. Dengan definisi ini tidak jarang supply chain juga banyak diasosiasikan dengan suatu jaringan value adding activities.

Bisa kita bayangkan bagaimanakah jaringan supply chain dari suatu produk tertentu. Kita ambil saja satu contoh barang yang sudah sangat kita kenal, mobil misalnya. Berbagai macam aktivitas dan perusahaan terlibat dalam pembuatan suatu mobil sampai ia ada ditangan konsumen akhir. Kalau kita lihat dari titik perusahaan perakitan sampai aliran barang ke konsumen, mungkin akan terlihat “sederhana”. Dari perakitan akhir, mobil-mobil akan di distribusikan melalui dealership sampai mobil-mobil ini ada di showroom-showroom untuk akhirnya sampai ke pemakai. Pada rantai jaringan inipun juga terlibat jaringan after sales services yang siap melayani konsumen mulai dari perawatan dilengkapi dengan supply komponen pengganti.

Kalau kita tarik dari perakitan sampai ke bahan baku, maka jaringan supply chain ini akan semakin kompleks. Berbagai komponen, modul dan sub komponen yang terlibat untuk dapat dirakitnya suatu mobil. Di titik paling hulu adalah industri yang menghasilkan plastik, baja/besi, aluminium, dan karet untuk ban, gasket dan komponen dari karet lainnya, serta kulit yang digunakan untuk jok mobil. Bisa kita bayangkan, ada ribuan aktivitas yang terlibat.

Nah, dari gambaran dan definisi diatas maka kita bisa lihat bahwa supply chain sebagai suatu aktivitas ataupun proses bisnis akan selalu ada. Dan bahkan keberadaannya telah ada sejak suatu aktivitas transformasi barang dan pendisitribusiannya ke konsumen akhir dimulai. Jadi, apakah suatu perusahaan menerapkan prinsip-prinsip manajemen supply chain atau tidak, perusahaan tersebut akan tetap menjadi bagian dari suatu supply chain. Bahkan perusahaan bisa menjadi bagian lebih dari satu supply chain sekaligus. Supermarket seperti Carrefour misalnya, pada saat yang sama ia menjadi ujung paling bawah (downstream) dari supply chain untuk banyak produk sekaligus. Posisi perusahaan dalam berbagai supply chain dimana ia beroperasi pun bisa berlainan. Perusahaan ban Goodyear misalnya, ia menjadi pemasok untuk pabrik perakitan mobil ketika kita pandang ia sebagai bagian dari supply chain produk mobil. Pada saat yang sama ia juga menjadi manufacturer akhir yang memasok ban langsung ke distributor dan retailer untuk pasar pengguna mobil yang membutuhkan penggantian ban. Di industri elektronika, perusahaan seperti Motorola bisa menjadi supplier bagi AT&T pada supply chain produk tertentu, di lain produk Motorola bisa menjadi customer dari AT&T.

Sekarang ini, supply chain tidak hanya melibatkan aliran barang dari hulu ke hilir tetapi juga melibatkan aliran barang sebaliknya yaitu dari konsumen kembali ke manufacturer, atau yang disebut dengan reverse supply chain. Aktivitas-aktivitas reverse supply chain meliputi: pengembalian produk cacat, services and maintenance, ataupun aktivitas daur ulang.

Sangat penting untuk dicatat bahwa dalam suatu supply chain terdapat tiga macam aliran utama, yaitu aliran produk, uang dan informasi. Pengelolaan dan sinkronisasi ketiga aliran inilah yang menjadi ruh dan jiwa dari supply chain management.

1 komentar: